Connect with us
The Boy in the Striped Pajamas
Miramax

Film

The Boy in the Striped Pajamas: Melihat Kepiluan Perang Dunia II dari Kacamata Anak-anak

Film yang menyajikan sisi lain dari perang, ikatan keluarga, dan pergulatan manusia dengan moralitas.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“The Boy in the Striped Pajamas” (2008) merupakan film karya sutradara Mark Herman yang menceritakan tentang tragedi pembunuhan massal pada masa Perang Dunia II di Jerman.

Film ini secara keseluruhan merangkum dampak dan kengerian yang bisa diterima oleh bangsa-bangsa yang berseteru, baik itu yang menang ataupun kalah, keduanya akan sama-sama menderita.

Yang membuat film ini menarik, narasi ceritanya dibangun dengan memanfaatkan kepolosan sudut pandang anak-anak dengan latar belakang yang sangat kontras. Film dengan durasi 94 menit ini berhasil membawa rasa was-was dan kecemasan kolektif untuk siapa saja yang menyadari adanya bahaya yang mengancam kedua anak tidak berdosa ini.

The Boy in the Striped Pajamas

Persahabatan dan Dokumentasi Visual Tragedi Holocaust

Film ini dimulai dengan kepindahan keluarga Ralf (David Thewlis) seorang perwira Schutzstaffel (SS) yang mendapatkan promosi untuk menjalankan tugas di wilayah yang sangat berdekatan dengan kamp Yahudi. Ralf memboyong istrinya Elsa (Vera Farmiga) dan kedua anaknya Gretel (Amber Beattie) serta Bruno (Asa Butterfield).

Tidak berselang lama, film mengarahkan fokus pada kisah persahabatan Bruno dan teman barunya, Shmuel (Jack Scanlon) seorang anak dengan piyama bergaris biru putih yang hidup di dalam kamp berpagar besi, ia tinggal tidak jauh dari kediaman Bruno.

Dua anak yang masih berumur delapan tahun tersebut berteman tanpa mengerti situasi politik yang mengancam. Ketidaktahuan dan kepolosan mereka membawa dampak paling mengerikan. Dan pada akhir film ini, takdir keduanya berhasil merepresentasikan tentang penderitaan dan kerugian kedua kubu yang sedang berperang, baik yang menang atau kalah mereka memiliki kesempatan yang sama untuk menanggung penderitaan.

The Boy in the Striped Pajamas

Perspektif Anak-anak yang Berhasil Mendikte Penonton

Keberhasilan “The Boy in the Striped Pajamas” yang paling menonjol adalah bagaimana film ini bisa membuka pandangan baru tentang kondisi perang dari sudut pandang anak-anak. Bruno dan Shmuel memiliki peran besar mendikte para penonton untuk memahami keadaan mereka, sebagai orang-orang yang buta tentang konflik politik dan tidak mengerti akan posisinya masing-masing. Dengan cara seperti itulah penonton dituntun untuk merasakan kekhawatiran dan kengerian dari suasana yang terjadi pada masa itu.

Terbatasnya pengetahuan Bruno tentang siapa ayahnya dan apa yang sedang dilakukannya pada kelompok tahanan Yahudi, sama dengan posisi Shmuel yang tabah menerima nasib kematian kakek-neneknya dalam sebuah insiden penangkapan. Walaupun begitu mereka tetap saling mempercayai dan memiliki keinginan untuk saling membantu. Terkadang ketidaktahuan memang akan membebaskan seseorang untuk bersikap baik pada orang lain tanpa memandang hal-hal yang sulit dimengerti.

Apa yang terjadi pada Bruno sangat bertolak belakang dengan ibunya, Elsa sebagai istri seorang perwira SS ia mengalami kondisi mental yang sangat tertekan. Ditengah kewarasannya sebagai seorang manusia, ia harus mengalami pergulatan tentang moralitas dan tindakan kejam yang dilakukan orang-orang terdekatnya.

Vera Farmiga memperlihatkan kemampuan terbaiknya memerankan tokoh Elsa dengan mempertontonkan banyak adegan sedih, seperti kekecewaan, keputusasaan, serta rasa kehilangan yang mendalam.

Sinematografi Fantastis dengan Makna Simbolis yang Kuat

Dalam film ini, momen-momen penting direkam dengan sangat baik dengan menggunakan permainan warna dan simbol-simbol. Mark Herman membedakan lokasi dan situasi dengan penggunaan warna yang berbeda, misalnya warna lebih gelap dipakai untuk menunjukkan kehidupan kelompok militer yang kuat. Sedangkan warna-warna lembut seperti coklat, putih, dan cream menggambarkan nasib orang-orang yang tidak berdaya.

Adanya simbol-simbol juga menjadi salah satu elemen yang cukup menarik, salah satu yang paling mengesankan adalah sepotong adegan saat Bruno menemukan segunung boneka-boneka telanjang milik kakaknya yang terbuang. Visual tersebut sangat kuat untuk menggambarkan bagaimana nasib tahanan Yahudi yang pada akhirnya akan diseret menuju ruang pembantaian massal.

Secara keseluruhan, “The Boy in the Striped Pajamas” merupakan film yang mampu menyampaikan narasi paling lantang tentang sisi lain dari perang, ikatan keluarga, dan pergulatan manusia dengan moralitas. Endingnya juga berhasil dieksekusi dengan sangat emosional dan menampar rasa kemanusiaan setiap orang.

10 Film Nominasi Best Picture Oscar 2023 10 Film Nominasi Best Picture Oscar 2023

10 Film Nominasi Best Picture Oscar 2023

Cultura Lists

Balada Si Roy Balada Si Roy

Balada Si Roy Review: Lika-liku Perusuh Tatanan

Film

Elvis Elvis

Elvis Review: Kisah Jatuh Bangun King of Rock and Roll 

Film

Spirited Away Spirited Away

Spirited Away: Animasi Legendaris Studio Ghibli yang Filosofis dan Penuh Makna

Film

Connect