Connect with us
survival family review

Film

Survival Family: Kisah Keluarga Patriarki Bertahan Hidup Tanpa Listrik

Suvival Family hanyalah sebuah film sederhana yang mampu menggambarkan kepanikan manusia ketika tidak dapat memanfaatkan teknologi.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Anggaplah ini sebuah acara survival di televisi. Hanya saja pesertanya adalah sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, anak perempuan, dan anak lelaki. Tapi acara survival ini berlangsung selama dua tahun. Begitulah kira-kira ide cerita dari Survival Family (2016). Dengan setting Jepang di masa post apocalypse ketika seluruh alat elektronik mati, sebuah keluarga terpaksa mengandalkan kemampuan bertahan hidup yang hampir tak mereka miliki.

Kita akan merasa disindir ketika melihat bagian awal film. Kedua anak yang sibuk dengan gadget masing-masing lebih suka menghabiskan waktu dengan mengisolasi diri di kamar. Hubungan antaranggota keluarga terasa renggang. Kita akan dibuat jengkel dengan anak yang sibuk sendiri dengan dunianya. Tapi kita mungkin juga merasa seperti becermin. Betapa kita lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman atau gebetan tanpa meluangkan waktu untuk menanyakan keadaan orangtua.

Keluarga hanyalah sebuah pranata yang tidak melakukan fungsinya dengan baik. Bahkan ketika bencana terjadi, si ayah sebagai kepala keluarga tidak terlihat mengkhawatirkan keluarganya. Budaya patriarki yang mendarah daging membuat si ayah tidak merasa ia harus pulang, berkumpul dengan keluarga, dan melakukan aktivitas bersama. Baginya, hidupnya hanya untuk bekerja. Ketika telah memberi nafkah maka satu-satunya peran yang ia emban telah selesai.

Ibu yang menjadi pusat dari keluarga terlihat lemah tak berdaya. Diacuhkan oleh anak dan suami, ia seperti bertanggung jawab terhadap keberlangsungan keluarganya seorang diri. Ia tidak mencoba menegur ketika suaminya melakukan kesalahan bahkan membelanya dan menormalisasi sistem patriarki yang sedang berlangsung. Cinta yang dulu tumbuh di antara ayah dan ibu telah menguap. Ayah yang dulunya berjuang mendapatkan restu untuk menikahi ibu telah melupakan usahanya dan mendapatkan cinta dan bersikap menyia-nyiakan istrinya.

Konflik semakin tajam ketika persediaan makanan menipis. Para tetangga mengungsi ke luar kota. Ada yang pergi ke gunung agar dekat dengan sumber makanan dan air. Keluarga yang tak kompak ini pun memutuskan untuk turun ke jalan dan memulai perjalanan mereka menuju rumah kakek nenek yang letaknya sangat jauh. Sebelum bencana terjadi, ketika transportasi dan alat komunikasi masih bekerja dengan baik, mereka justru jarang mengunjungi kakak nenek ataupun menghubunginya. Kini setelah tersudut dan tidak memiliki tujuan lain, mereka baru memahami arti dari adanya hubungan darah.

Baik cinematography, editing, colouring, maupun scoring terasa biasa. Tidak ada yang menonjol ataupun berkesan. Ada beberapa scene yang direkam dengan handheld kamera tapi tidak cukup menjadi nilai tambah. Meski demikian, film ini sangat menyenangkan untuk ditonton. Emosi kita akan diaduk walau sebenarnya tidak ada penggambaran dramatis di sini. Akting para tokoh yang juga apik beserta skrip yang oke membuat Survival Family memiliki plot yang mulus. Ide film inilah yang baru. Tidak seperti post apocalypse ala film barat seperti Resident Evil atau Planet of The Apes. Survival Family bukanlah dunia post apocalypse yang terasa mengerikan dan seperti mimpi buruk. Suvival Family hanyalah sebuah film sederhana yang mampu menggambarkan kepanikan manusia ketika tidak dapat memanfaatkan teknologi.

Fumiyo Kohinata yang memerankan tokoh ayah haruslah mendapat applause atas aktingnya. Kita akan merasa sebal melihat seorang ayah yang begitu egois sekaligus sok pintar. Sedikit demi sedikit kepribadiannya terungkap. Ia hanyalah seorang pecundang yang gagal menjadi kepala keluarga. Ia iri melihat keluarga lain yang kompak sekaligus memiliki kemampuan bertahap hidup lebih baik. Ia juga merasa lebih buruk melihat kepala keluarga lain yang mampu menjalankan tugas dengan baik. Egonya terluka apalagi setelah menyadari selama ini isrtrinya menutupi kebodohannya.

Beberapa adegan terasa dark dan cukup memberikan ketegangan kecil sepanjang film yang plotnya dibangun pelan-pelan ini seperti mencuri ternak warga hingga dikejar anjing liar sampai menyebabkan ibu patah kaki. Survival Family benar-benar menunjukkan pahitnya hidup bila kita terlalu bergantung pada teknologi dan tak bisa mandiri. Apalagi ketika terlalu lapar dan terpaksa memakan makanan kucing. Overall, Survival Family adalah film yang sanagt cocok dinikmati bersama keluarga dan membantu kita merefleksikan diri untuk melihat sudah seberapa manjanyakah kita yang bergantung terhapa teknologi.

Script: 8/10
Story: 8/10
Acting: 8/10
Cinematography: 6/10
Sound: 6/10

Click to comment

Leave a Comment

Connect