Connect with us
Sejarah Komik dari Berbagai Belahan Dunia
Image via blogto.com

Culture

Sejarah Komik dari Berbagai Belahan Dunia

Dahulu komik merupakan salah satu cara untuk mengkritisi politisi. Kini, komik dapat dinikmati gratis secara online sebagai hiburan.

Sejak Johanes Gutenberg menemukan mesin cetak pada tahun 1455, industri media cetak pun bangkit. Di berbagai belahan dunia, orang dapat menikmati koran maupun beragam jenis media yang terbit secara periodik lainnya. Barulah pada awal 1700-an ilustrasi satir dengan kecenderungan politis mulai dijual. Ilustrasi inilah yang menjadi cikal bakal komik. Saat itu harga jualnya pun murah. Selain isu politis, seniman juga membuat ilustasi mengenai tokoh maupun isu penting yang tengah hangat. Ada dua seniman Inggris yang menjadi pelopor yaitu William Hogart (1697-1764) dan George Townsend (1724-1807).

Thomas Nast (1840-1902). “What Are You Laughing At? To The Victor Belong the Spoils.” 1871. Museum of the City of New York

Thomas Nast (1840-1902). “What Are You Laughing At? To The Victor Belong the Spoils.” 1871. Museum of the City of New York

Alat Politik di Barat

Akhirnya kartun pun mulai populer di 1800-an. Karya para kartunis dimuat di koran-koran. Benjamin Franklin, mantan Presiden Amerika, membuat kartun editorial pertama di koran Amerika. Kartun itu berupa ilustrasi ular dengan beberapa kepala yang bertuliskan “Join, or Die”. Tujuan pembuatan kartun ini adalah mendorong koloni yang berbeda untuk bergabung kepada apa yang disebut sebagai United States. Benjamin menjadikan kartun tersebut sebagai alat politiknya. Ia memang akrab dengan dunia media cetak karena salah satu profesinya di luar dunia politik adalah sebagai penerbit.

Salah satu komikus ternama saat itu adalah Thomas Nast. Nast sendiri adalah seorang imigran Jerman yang tidak menyelesaikan sekolah karena terlalu sibuk menggambar. Pada usia 15 tahun, Nast telah bekerja sebagai seorang ilustrator. Ia menggunakan karyanya untuk menjelaskan korupsi yang merajalela saat itu di New York. Karyanya berhasil menurunkan salah satu politikus paling berpengaruh saat itu dari tahta. Orang di balik serangkaian kasus korupsi tersebut adalah William Tweed. Tindakan kriminalnya termasuk dengan menyogok pejabat, mencurangi pemilu, dan mencuri uang kas kota.

Saat itu nama Nast mulai menanjak akibat kepopuleran karya-karyanya. Nast tidak merasa takut dan dengan berani mengkritik berbagai kebijakan politik yang ada, termasuk sang presiden. Nast membuat serangkaian serial kartun yang menunjukkan kebobrokan Tweed. Sang koruptor sempat keluar masuk penjara sebelum akhirnya kabur ke Eropa. Namun salah seorang penikmat karya Nast mengenali wajah Tweed dan membuatnya diekstradisi ke Amerika untuk menjalani hukuman kembali. Setelah bertahun-tahun jaya, Nast akhirnya menghembuskan napas terakhir akibat demam kuning. Sepeninggal Nast, kartun politik dan kartun satir tetap mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat Amerika. Namanya diabadikan dalam dua penghargaan yaitu Thomas Nast Prize dan Thomas Nast Award.

sejarah komik popeye

Source: Library of American Comics

Karya yang disebut sebagai pionir dari buku komik adalah “The Yellow Kid in McFadden’s Flats” yang terbit pada 1897. Komik ini terbit dalam wujud hitam putih. Pembuatnya adalah Richard Outcault. Kesuksesan buku komik ini turut mendorong lahirnya karya lain, salah satunya adalah “Katzenjammer Kids”. Pada 1912, New York Evening Journal menjadi koran pertama yang mendedikasikan halamannya untuk komik strip dan kartun single panel. Akhirnya lahirlah kartun-kartun lain yang terbit di koran secara bersambung contohnya “Gasoline Aley”. “Popeye” juga termasuk ke dalam kartun yang terbit bersambung sebelum akhirnya menjadi terkenal di seluruh dunia dalam bentuk animasi.

Tak banyak dari karakter komik strip di koran yang mampu menjadi buku komik tersendiri di masa 1920-an. Lebih sedikit lagi dari karakter komik itu yang mampu bertahan hingga sekarang. Salah satunya yang mampu bertahan adalah Tintin, Buck Rogers, Popeye, dan Tarzan. Komik mencapai masa keemasannya ketika Superman debut pada Juni 1938 kemudian diikuti dengan Batman. Komik tidak lagi selalu bermuatan politis melainkan berfungsi sebagai media hiburan maupun fantasi.

Keberhasilan Superman dan Batman melahirkan tokoh-tokoh superhero lainnya. Tahun 1938 hingga 1940-an adalah puncak dari kesuksesan buku komik. Superman, Batman, dan Captain Marvel dapat terjual hingga 1,5 juta kopi perbulan. Pada pertengahan 1950-an, tren dari tema buku komik berubah menjadi lebih serius. Tema yang diangkat antara lain kriminal dan horor. Sejarah tersebut masih panjang hingga kini. Dua nama besar yaitu Marvel dan DC Comics banyak menelurkan film yang diambil dari serial komik mereka.

manga history

Source: Harvard Art Museum

Manga

Jepang menyebut komik dan novel grafisnya sebagai manga. Kita membacanya dari kanan ke kiri, berbeda dengan komik di barat yang dibaca dari kiri ke kanan. Manga diyakini telah ada sejak abad 12. Meski cikal bakal manga berusia sangat tua, istilah manga sendiri baru digunakan tahun 1798 untuk sebuah karya bertajuk “Shiji No Yukikai” alias 4 Musim yang dibuat oleh Santō Kyōden. Pada 1814, istilah manga kembali ditemukan pada karya Aikawa Mina, “Manga Hyakujo”. Terminologi manga kini tidak hanya mencakup buku komik atau novel grafis saja tetapi juga animasi. Namun demikian di luar Jepang, terminologi ini diartikan secara terpisah. Manga adalah komik dan anime adalah bentuk dari animasi.

Perang Dunia II mengakibatkan Jepang diduduki oleh Amerika. Saat itu Amerika pun membawa komik-komik dari negaranya seperti Mickey Mouse, Betty Boop, dan Bambi. Komik tersebut meninggalkan kesan yang sangat baik pada para mangaka (pembuat manga). Mungkin inilah yang menyebabkan karakter manga terlihat kebarat-baratan seperti rambut yang berwarna dan mata yang besar, berkebalikan dengan orang Jepang yang bermata sipit. Para seniman Jepang tersebut lalu membuatnya sesuai dengan style mereka sendiri kemudian menerbitkannya di majalah atau koran. Majalah-majalah komik pun bermunculan. Satu edisinya dapat mencakup 10 hingga 20 seri komik. Generasi ini melahirkan beberapa mangaka legendaris seperti Osamu Tezuka yang menghasilkan “Astro Boy” dan Machiko Hazegawa yang melahirkan “Sazae-san”.

Berbeda dengan komik barat, manga memiliki kategori untuk segmentasi pasarnya. Shonen untuk anak laki-laki; shojo untuk anak perempuan; seinen untuk lelaki dewasa; josei untuk perempuan dewasa; dan kodomo untuk anak-anak. Namun ada pula istilah lain seperti hentai, yaoi, yuri, fujoshi, dan fudanshi. Jepang yang memang memiliki kultur unik soal gender pun mengaplikasikan hal tersebut pada manga mereka. Yaoi adalah manga bertema homoseksual sementara yuri bertema lesbian. Banyak dari manga ini yang kemudian diadaptasi ke dalam bentuk serial televisi maupun layar lebar, baik berupa animasi maupun live action. Salah satu manga sekaligus anime yang tengah naik daun adalah Attack on Titan. Uniknya, manga dan animenya tidak mengikuti gaya khas Jepang dengan karakter yang sangat ekspresif atau bentuk tubuh tidak proporsional.

Put On - Komik Strip Karya Kho Wang Gie. Terbit Sejak 1931 di Harian Sin Po.

Put On – Komik Strip Karya Kho Wang Gie. Terbit Sejak 1931 di Harian Sin Po.

Indonesia

Salah satu komikus yang tercatat dalam sejarah adalah Kho Wang Gie. Ia menerbitkan karyanya pada surat kabar Sin Po di tahun 1930. Tokoh ciptaannya adalah Put On, yang memiliki karakteristik jenaka. Komikus lain yaitu Keng Po membuat tokoh serupa Put On yang diberi nama Si Tolol dan diterbitkan majalah mingguan Star Magazine (1939-1942). Di Solo, media mingguan Ratu Timur memuat karya komikus Nasrun A.S. yang bertajuk “Mentjari Putri Hidjau”. Surat kabar bahasa Belanda, De java bode (1938) memuat komik karya Clinge Doorenbos bertajuk Flippie Flink. Surat kabar lain, De Orient, memuat komik “Flash Gordon”.

Pers sempat diberangus pada masa kependudukan Jepang. Namun pada masa ini tetap ada komik yang terbit seperti misalnya “Roro Mendoet”. Lalu kemudian media massa melalui fase untuk sulit terbit karena kondisi yang tidak memungkinkan setelah kemerdekaan. Tentu saja hal ini berpengaruh terhadap industri komik dalam negeri. Di awal 1950, seorang komikus yaitu Abdulsalam, tetap berupaya menerbitkan karya. Ia mengirimkan komiknya ke harian Kedaulatan Rakjat yang terbit di Yogyakarta. Tahun 1954, komikus-komikus di Indonesia terinspirasi dengan keberhasilan dunia komik di Amerika. Tak jarang mereka menjiplak komik Amerika. Tapi tak semua komik dipengaruhi gaya barat. Ada pula yang membuat komik dengan tema pewayangan seperti “Gatotkaca” (1955) dan “Mahabarata”. Namun masa keemasan komik bertema wayang berlangsung singkat hingga 1960.

Masa Kini

Meski buku komik tetap menjamur di toko buku, kini tren membaca komik telah bergeser. Ada banyak komik online yang tersedia baik dengan berlangganan, berbayar sekali baca, maupun gratis. Situs-situs penyedia manga yang sudah dialihbahasakan juga sangat banyak. Beberapa penyedia aplikasi komik mulai melirik pasar di Indonesia dan ikut bermain di sini. Salah satunya adalah Webtoon, aplikasi komik gratis dari berbagai negara dan bahasa. Webtoon berasal dari Korea. Ratusan judul komik tersedia baik lokal maupun mancanegara. Genrenya juga beragam mulai dari romance, adventure, horor, criminal, hingga thriller. Webtoon bisa dibilang adalah salah satu aplikasi komik paling ternama di Indonesia dibanding aplikasi lainnya.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Mind Blowon (@tahilalats) on

Selain itu, komik-komik Indonesia juga mulai menjamur di Instagram. Para komikus ini mengunggah karyanya secara gratis. Namun kini beberapa komikus mulai menetapkan sistem berbayar melalui patreon, terutama untuk konten-konten yang dinilai sensitif. Misalnya berkaitan dengan seksualitas maupun agama. Patreon memungkinkan pembaca untuk membayar sejumlah uang perbulan demi mendapatkan akses tak terbatas pada tiap konten si komikus. Cara ini juga umum dipakai untuk komikus di barat.

Click to comment

Leave a Reply

Connect