Connect with us
searching

Film

Searching: Kisah Kriminal di Era Digital

Film tentang penculikan seorang anak yang membuat ayahnya berupaya mati-matian mencari.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Hanya melihat teasernya saja tidak akan membuat kita jatuh hati dengan konsepnya. Kita mungkin saja salah menilai dengan berpikir Searching (2018) adalah film kriminal biasa. Film tentang penculikan seorang anak yang membuat ayahnya berupaya mati-matian mencari. Namun Searching bukan film kriminal biasa. Ada banyak plot twist di setiap lembar kisahnya. Setiap satu lapisan kisah dikupas, ada rahasia lain yang belum terungkap di dalamnya.

Alkisah David Kim adalah seorang duda. Istrinya meninggal dunia karena kanker. David dan keluarga kecilnya termasuk digital savvy. Mereka rajin merekam dan menyimpan momen-momen berharga ke dalam laptop. Momen ulang tahun, masuk sekolah, hingga catatan resep masakan favorit keluarga semua tersimpan rapi. Laptop milik keluarga Kim hampir tidak pernah mati. Berbagai aktivitas dilakukan dengan memanfaatkan peralatan digital. Inilah salah satu ciri khas dari Searching yaitu screencast. Sepanjang film kita akan melihat David Kim menggunakan laptop maupun ponsel pintarnya. Sudut pandang kita adalah sudut pandang layar.

Margot Kim, anak satu-satunya David, menghilang. David pun menjelajahi jejak digital putrinya. Ini juga akan menjadi hal yang ditakutkan para orangtua yaitu ketia mengetahui bahwa anaknya tidak memiliki teman bahkan seperti tidak pernah bergaul dengan siapa-siapa. Apalagi kenyataan bahwa adik lelakinya memiliki suatu rahasia dan saling berkirim pesan singkat dengan anak perempuannya membuat David menjadi semakin tertekan.

Inilah kelebihan Searching. Penonton dibuat ikut stres dan frustasi. David Kim sendiri yang diperankan oleh John Cho mampu berperan dengan apik. Di satu sisi ia takut kehilangan putrinya. Di sisi lain ia harus berpikir cermat dan logis untuk melacak keberadaan Margot. Sudut pandang layar laptop yang digunakan di film ini membuat kita dapat mengamati secara jelas ekspresi David setiap saat. Ekspresi gundah gulananya membuat kita larut dan terus berpikir keras, “Siapa pelakunya?”

Nyatanya seluruh tebakan penonton salah. Plot twist yang dibangun sangat rapih, membuat setiap kali satu rahasia berhasil terkuak tidak membuat rahasia lain menjadi nampak. Kita akan terus dibuat penasaran hingga film berakhir, sebenarnya siapa yang menculik Margot? Kita juga dibuat sebal ketika tahu bahwa kita, sama seperti David, telah dipecundangi oleh detektif polisi Rosemary.

Keunikan lain dari film ini adalah scoring di sepanjang film. Bunyi-bunyi yang digunakan adalah bunyi digital yang akrab di telinga. Kita akan mendengar suara notifikasi pesan singkat secara nyata, begitu pula bunyi nada sambung telepon. Meski mayoritas gambar berasal dari layar laptop dan suara berasal dari efek digital, tetapi Searching tidak membuat bosan. Kita justru khawatir tertinggal meski hanya satu scene karena saking serunya film ini. Uniknya lagi, proses penculikan juga tidak ditampilkan sama sekali. Perbuatan kriminalnya justru tidak terlihat. Namun itulah daya tarik film ini.

Searching akan membuat kita merasakan beratnya menjadi orangtua. Khawatir, bingung, kalut, hingga merasa gagal menjalankan peran. Kita merasa tidak tahu apa-apa tentang anak kita. Bahkan kita merasa asing dengannya. Apalagi ketika anak remaja sudah mulai mempunyai rahasia hingga membohongi orangtua maka kita akan betanya-tanya, “Apa yang salah?” Bisa ditebak bagaimana moral cerita dari Searching. Kita sebagai orangtua dituntut peka dan membangun komunikasi yang baik dengan anak terutama ketika di usia remaja. Anak-anak butuh dipahami dan dimengerti. Mereka hanya ingin diraih agar tidak pergi terlalu jauh.

Script: 9/10
Story: 8/10
Acting: 8/10
Cinematography: 9/10
Scoring: 9/10

Click to comment

Leave a Comment

Connect