Connect with us
Run Hide Fight Review

Film

Run Hide Fight Review: Ketika Die Hard Berlokasi di Sekolah

Tragedi yang terlalu sensitif untuk diangkat menjadi film thriller-action.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Kasus penembakan di sekolah sudah menjadi berita harian di Amerika Serikat. Hal ini dikarenakan regulasi pembelian senjata api yang sangat renggang di negara tersebut, anak remaja sekalipun bisa membeli senapan jika mereka ingin. Sudah menjadi momok bertahun-tahun, sayangnya pemerintahan Amerika seakan tutup mata dari isu satu ini.

Kengerian yang dirasakan oleh remaja Amerika mungkin tidak cukup relevan bagi kita yang tinggal di Indonesia. “Run Hide Fight” akan memberikan pengalaman mencekam, brutal, serta betapa menegangkannya berada di dalam gedung sekolah yang dikuasai remaja tidak stabil dengan senjata api. Ketika sedang terjadi pembajakan oleh empat siswa di sebuah SMA, Zoe Hull (Isabel May), menjadi satu-satunya siswi yang memberanikan diri untuk menyelamatkan siswa-siswa lainnya, bahkan menantang teroris yang juga merupakan teman satu sekolahnya, Tristan Voy (Eli Brown).

Run Hide Fight Review

Run Hide Fight

Suasana Penembakan di Sekolah Amerika yang Mencekam

Mulai dari babak pembukaan, “Run Hide Fight” telah memberikan nuansa suram pada karakter utama, Zoe Hull. Dimana Ia baru saja ditinggal ibunya karena penyakit kanker. kemudian mulai terjadi berbagai kejadian random yang secara perlahan membangun suspense pada plot hingga akhirnya memasuki babak utama; empat siswa yang memulai “pertunjukan” penembakan di sekolah.

Baik melalui perspektif Zoe maupun scene lain dimana menunjukan situasi Tristan Voy merundung para siswa di kantin sekolah, setiap detiknya terasa sangat menegangkan. Bahkan bisa dikategorikan cukup brutal. Sebetulnya tidak ada adegan kekerasan berlebihan atau frame penuh dengan darah yang sadis. Tema ini sendiri sudah membawa perasaan mencengkam karena benar-benar terjadi di dunia nyata.

Sound mixing dalam produksi film ini juga memberikan suara menggelegar ketika ada pintu yang dibanting, suara tembakan, dan suara-suara keras lainnya. Dengan perumpamaan terburuk, pengalaman yang kita alami dalam film ini mungkin akan menimbulkan PTSD dan rasa paranoid jika membayangkan tentang situasi penembakan di sekolah.

Premis yang Menarik, Namun Eksekusi Naskah Kurang Berkesan

Film tentang penembakan di sekolah memiliki potensi menjadi stereotipikal genre baru dalam industri film Amerika. Sama halnya telah lahir banyak film tentang aksi penyanderaan atau teroris pada Presiden Amerika. Sebagai isu yang (sayangnya) selalu hangat di media Amerika, cukup menarik ketika Kyle Rankin memutuskan untuk memilih isu penembakan di sekolah menjadi premis untuk film laga terbarunya. Sayangnya, Kyle melewatkan kesempatan untuk membuat momen dimana isu ini diangkat lagi ke permukaan untuk disudahi.

Film ini justru bisa membuka luka bagi keluarga yang kehilangan anak karena musibah serupa, begitu juga dengan remaja yang sempat mengalami dan kehilangan temannya. Motif dari sutradara sekaligus penulis cerita film ini perlu dipertanyakan.

Pasti ada cara lain untuk meramu isu sensitif ini agar tetap layak difilmkan dan memberi outcome yang lebih positif. Film ini jelas sangat intens, suram, dan bisa dikategorikan cukup depresif.

Memperlakukan Isu Sensitif Sebagai Bahan Film Action-Thriller Brutal

“Run Hide Fight” bisa diibaratkan sebagai “Die Hard” berlatar di sebuah sekolahan. Zoe Hull akan cukup mengingatkan kita pada John McClane dalam franchies laga tersebut. Zoe digambarkan sebagai karakter wanita yang heroik dan pemberani, namun memiliki cela yang pada akhirnya menodai cerita.

Tak berbeda dengan Tristan dan kawan-kawannya yang tidak stabil, Zoe juga memiliki kondisi mental yang kurang stabil. Hingga pada akhirnya ada keputusan yang disayangkan harus disematkan untuk menutup kisah yang brutal ini. Begitu juga dengan Tristan, hingga akhir kisah, kita tidak akan tahu benar; apa alasannya melakukan teror mengerikan tersebut? Bahkan asal melontarkan tembakan pada murid yang tidak bersalah padanya.

Padahal, ada banyak elemen dari tragedi ini yang memiliki sisi gelap dan perlu diungkap. Mulai dari siswa bermasalah yang mungkin memiliki isu keluarga, pola asuh, dan trauma. Isu bullying yang kerap menjadi pemicu, hingga sistem pendidikan yang menjadi TKP dari kejadian ini. Semua remaja dalam tragedi ini merupakan korban; tak terkecuali siswa yang melangsungkan teror.

Bisa diakui, “Run Hide Fight” berhasil menjadi film action-thriller yang menimbulkan ketegangan pada setiap babaknya. Melihat karakter Zoe yang heroik dengan perspektifnya yang disajikan dengan sentuhan psychological drama juga cuku seru. Namun, sepertinya bukan pilihan bijak untuk memperlakukan isu yang sensitif sebagai materi film aksi Hollywood dengan ledakan dan kebrutalan semata.

Click to comment
Advertisement
Cultura Live Session
Connect