Connect with us
Ride or Die Review
Photo: Aiko Nakano/Netflix

Film

Ride or Die Review: Obsesi dan Hubungan Toxic yang Tidak Memiliki Dasar

Perjalanan membosankan yang dikemas dengan produksi artistik.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Ride or Die” merupakan film drama Jepang terbaru Netflix, disutradarai Ryuchi Hiroki, dibintangi oleh Kiko Mizuhara dan Hona Ikoka. Film ini diadaptasi dari manga berjudul “Gunjo” karya Ching Nakamura.

Setelah sepuluh tahun berpisah, Rei secara tiba-tiba menerima kabar dari Nanae, teman sekolah yang juga merupakan cinta pertamanya. Meski telah menikahi pria yang kaya, Nanae ternyata terjebak dalam pernikahan yang tidak bahagia dan menjadi korban kekerasan oleh suaminya sendiri. Masih memiliki rasa cinta yang mendalam, Rei pun bersedia melakukan apapun untuk menyelamatkan Nanae.

Rei dan Nanae dalam Pelarian Tanpa Tujuan dan Status Hubungan yang Jelas

Berdasarkan sinopsis dan poster, mungkin banyak dari kita teringat dengan salah satu film romansa dengan hubungan sesama jenis paling ikonik, “Blue Is the Warmest Colour” (2013). Jika memiliki ekspektasi setinggi film drama tersebut, “Ride or Die” tidak akan menyajikan cerita dengan dinamika karakter dan plot yang menggugah seperti film drama romansa sejenisnya. Padahal film ini sudah sangat mengundang dan memikat pada bagian prolog, terutama karena sinematografi yang langsung tampak artistik dan akselerasi suasana yang mengejutkan.

Ride or Die Review

“Ride or Die” hadir dengan format plot maju mundur yang cukup banyak. Dari prolog kita akan dibawah ke satu hari sebelumnya, kemudian sepuluh tahun sebelumnya. Alur ini akan membuat kita merasa wajar jika tidak paham dengan status atau hubungan yang terjalin antara Rei dan Nanae pada babak pertama. Sayangnya, sekalipun dibawa mundur ke masa lalu mereka, kita tidak akan pernah menemukan alasan yang jelas dari dua karakter utama ini.

Apa yang terjadi pada mereka akhirnya terasa seperti tindakan impulsif yang berupa lelucon tidak lucu. Hingga akhirnya mereka kabur dan melakukan pelarian bersama, tak ada momen dalam perjalanan mereka yang berkesan. Tak ada perkembangan hubungan yang masuk akal maupun perkembangan karakter yang menarik.

Emosi yang dihadirkan dalam skenario ini memiliki turbulensi dinamis dengan cara paling tidak nyaman. Perpindahan dari momen depresif kemudian berubah menjadi ceria sangat kontras dan semakin memperjelas hubungan Rei dan Nanae yang tidak sehat.

Pengorbanan Besar Rei yang Tidak Memiliki Dasar Meyakinkan

Dengan klaim memuat konten LGBTQ, Rei dan Nanae tidak bisa dibilang menjadi representasi pasangan sesama jenis yang saling mencintai. Rei menjadi karakter utama yang jelas prefensi seksualnya serta jelas bahwa Ia mencintai Nanae. Namun, Nanae sendiri tidak jelas prefensi seksualnya dalam kisah ini. Bahkan sepanjang film kita akan melihat Nanae tampak seperti pihak yang hanya memanipulasi Rei karena cintanya yang tanpa syarat, cenderung merupakan obsesi yang tidak sehat.

Obsesi tersebut bahkan tidak diperlihatkan memiliki dasar yang kuat. Dalam sebuah hubungan toxic sekalipun selalu ada alasan mengapa seseorang rela cinta mati, setidaknya dalam sebuah skenario film. Tanpa hal tersebut, penonton akan dibuat kesal dengan cinta buta yang dimiliki oleh Rei.

Netflix original movie april 2021

Ride or Die

“Ride or Die” bisa dibilang memuat plot yang cukup disturbing, terutama dari sudut pandangan Rei. Mulai dari awal film, kita hanya akan melihat Rei menghancurkan dirinya sendiri demi orang yang Ia cintai. Nanae bahkan tidak memiliki penokohan yang akan membuat kita berpikir bahwa Ia layak untuk diselamatkan dan diperjuangkan.

Penampilan Akting Berkualitas dan Produksi yang Artistik

“Ride or Die” memiliki kemasan yang sangat menjual dan menimbulkan ekspektasi tinggi pada penontonnya. Terutama dalam segi estetika produksi, setiap frame dari awal hingga akhir film patut diakui memiliki sinematografi yang indah. Hampir semua film drama Jepang selalu menghadirkan mood dan filter yang khas, hal tersebut juga terasa dalam film ini. Mulai dari desain karakter Rei dengan rambut merahnya, hingga penampakan kota di malam hari yang melankolis dan dramatis.

Meski secara penulisan naskah kedua karakter utama tidak memiliki penokohan maupun hubungan yang kuat, Kiko Mizuhara dan Hona Ikoka tetap berhasil memberikan penampilan yang maksimal dalam segi akting. Setiap emosi dan ekspresi yang mereka sampaikan terasa otentik dan maksimal. Tampak usaha mereka untuk menampilkan akting sesempurna mungkin bahkan tanpa penghanyatan karakter. Casting dan sinematografi yang indah bisa menjadi alasan mengapa mungkin beberapa dari kita bisa kuat untuk menonton film berdurasi kurang lebih 2 jam ini.

Sebagian besar drama romansa Jepang kerap menghadirkan hubungan percintaan yang kompleks dan menguras hati. Mulai dari skenario jatuh cinta dengan orang asing, hingga cinta maupun obsesi tanpa dasar yang jelas. Sekalipun dengan estetika yang indah dan berhasil menciptakan mood tertentu, “Ride or Die” memiliki naskah yang tidak berhasil menyampaikan makna pengorbanan dan cinta yang kuat dari Rei dan Nanae.

Click to comment

Girl From Nowhere Girl From Nowhere

Rekomendasi Serial Drama Thriller Remaja di Netflix

Cultura Lists

When I Grow Up Disney Junior When I Grow Up Disney Junior

When I Grow Up: What Do Your Little Ones Want to Be When They Grow Up?

Cultura Lists

Shadow and Bone Review Shadow and Bone Review

Shadow and Bone: Serial Fantasi Berlatar Militer Kerajaan dengan Sihir

TV

Things Heard and Seen Things Heard and Seen

Things Heard & Seen: Percampuran Horror Supranatural dan Drama Rumah Tangga

Film

Advertisement
Cultura Live Session
Connect