Connect with us
Revenge Review
Netflix

Film

Revenge Review: Balas Dendam Brutal Perempuan yang Tersakiti

Sekuen balas dendam berlumur darah yang seru dan menegangkan.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Jen (Matilda Anna Ingrid Lutz) memiliki kecantikan yang membuat pria pada umumnya terpesona. Ia pun berhasil memikat seorang pria kaya, membawanya berlibur ke sebuah properti mewah di daerah gurun pasir, jauh dari peradaban manusia lain, sebagai wanita simpanan. Agenda berubah ketika dua pria bergabung di propreti tersebut. Siapa yang akan menjadi mangsa dan pemburu dalam kisah ini?

“Revenge” merupakan film debut Coralie Farget sebagai sutradara. Tak tanggung-tanggung, Ia sepertinya ingin dikenal sebagai sutradara yang menyukai darah.

Buat penggemar film-film dari Quentin Tarantino, “Revenge” akan memberikan vibe yang cukup serupa dengan “Kill Bill”. Begitu juga film dengan protagonist femme fatale lainnya seperti “Promising Young Woman” karya Emerald Fennell hingga “Gone Girl”. Dimana dalam film-film tersebut memiliki plot berisi seorang wanita yang menjalankan sekuen balas dendam.

Revenge Review

Sinematografi dan Simbolis Visual yang Memikat

Sang sutradara tampak secara maksimal dalam mempresentasikan visual “Revenge”. Jika dianalisa, secara keseluruhan film ini memiliki budget yang cukup standard; dengan empat aktor saja dalam film, lokasi syuting yang di situ-situ saja, kemudian tanpa ada ledakan atau perusakan properti.

Sinematografi yang memikat diwujudkan melalui editing dan detil-detil adegan simbolis. Seperti semut yang mendekati bekas gigitan apel, zoom pada pria yang menguyah coklat dengan dramatis sekaligus menjijikan, sekuen mimpi buruk yang terlihat random namun sebetulnya memiliki makna.

Warna yang dominan dalam “Revenge” adalah warna-warna hangat seperi kuning dan pastinya merah darah. Memberikan nuansa tidak nyaman (sesuai dengan konsep ceritanya) seperti film “Mad Max: Fury Road”, dimana sebagian besar babak utama berlatar di gurun pasir pada siang hari.

Revenge Review

Revolusi Protagonis Perempua Dieksekusi dengan Tepat

Jen sudah tampil sebagai protagonis berkarakter dari adegan pertama. Awalnya, Ia tampil sebagai wanita menggoda dengan rambut pirang yang bergelombang, kacamata yang fashionable, turun dari helikopter sambil mengemut lollipop warna merah. Segala hal tentang Jen terlihat sangat komikal, bak karakter super seksi idaman semua pria yang keluar dari komik dengan segala kesempurnaannya, dalam segi visual.

Tak berhenti sampai di situ, sepanjang babak pertama, film lebih fokus pada karakter Jen sebagai ‘objek’ bagi para lelaki. Setiap adegan vulgar, footage dimana Jen menari yang terasa cheesy tidak dihadirkan cuma-cuma, namun hendak mengeksploitasi Jen sebagai objek, wanita adalah objek bagi para pria dalam kisah ini.

Kemudian ada babak transisi, hingga akhirnya Jen berubah menjadi karakter yang benar-benar berbeda. Bahkan warna rambutnya seketika berubah, pandangan matanya dipenuhi amarah dan ambisi untuk balas dendam. Ada satu adegan penampakan dengan teknik kamera yang berputar ala film-film superhero. Dimana teknik pengambilan gambar tersebut kerap menyibolkan revolusi atau perubahan. Terasa cukup instan, namun sudah cukup tepat.

Dalam prosesnya, Jen juga tidak digambarkan seratus persen berubah menjadi sosok berbahaya dan mematikan dari segi fisik. Seperti kata pepatah, jika ada kemamuan, maka ada jalan. Jen memiliki kemamuan dan tekad yang besar untuk balas dendam dalam skenario ini.

Mengeksploitasi Adegan Kekerasan dengan Brutal

“Revenge” tidak memiliki naskah yang padat dialog, namun padat secara narasi. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, film ini memiliki daya tarik secara visual. Film ini memang sangat mengandalkan visual untuk membentuk sebuah cerita. Setiap adegan diarahkan dengan detil, adegan aksi, pengejaran, dan baku tembak juga tidak asal tebak saja.

Satu saran buat yang ingin menonton “Revenge”, jangan menerapkan hukum logika yang serius pada film ini. Kita akan melihat darah dalam jumlah yang tidak masuk akal, membuat kita heran mengapa tidak ada yang kehabisan darah. Selain narasi yang diwujudkan dalam setiap adegan yang detil, akting setiap aktor juga menyakinkan untuk membuat kita merasakan kesakitan dan adegan-adegan sadis yang membuat ngilu.

Konsep ‘berburu’ yang diterapkan dalam kisah ini juga sangat tepat untuk memberikan suasana yang menegangkan. Kemudian berkembang menjadi sesuatu yang secara tidak sengaja terasa dramatis dalam segi penulisan naskah.

“Revenge” merupakan film yang sadis, brutal, dan penuh adegan kekerasan. Meski menentang beberapa hukum logika, tetap terlihat layak dan menghasilkan sebuah film yang patut untuk kita tonton.

Memoir of A Murderer Review Memoir of A Murderer Review

Memoir of A Murderer Review

Film

Prey netflix review Prey netflix review

Prey Review: Pemburu Misterius yang Mengincar Para Pendaki

Film

Kate Netflix Kate Netflix

Kate Review: Film Action Gaya Hollywood dengan Estetika Jepang

Film

Masa Keemasan Hollywood: ‘Blessing in Disguise’ Pasca Depresi Ekonomi Masa Keemasan Hollywood: ‘Blessing in Disguise’ Pasca Depresi Ekonomi

Masa Keemasan Hollywood: ‘Blessing in Disguise’ Pasca Depresi Ekonomi

Culture

Advertisement
Connect