Connect with us
labuan bajo

Travel

Rehat Sejenak di Labuan Bajo

Kita akan berenang dengan ikan manta dan ubur-ubur. Ketika malam datang, kita dapat menonton atraksi bintang jatuh.

Sesuai dengan namanya, Labuan Bajo adalah tempat berlabuhnya Suku Bajo yang berasal dari Sulawesi. Suku Bajo seringkali dijuluki sebagai gipsi laut karena kesenangannya mengarungi lautannya. Kelebihan lain dari suku ini adalah kemampuannya menahan napas dalam air. Diketahui bahwa ada mutasi genetik yang terjadi dalam tubuh orang Bajo sehingga memiliki kemampuan menahan napas hingga 13 menit, jauh di atas rata-rata kemampuan manusia pada umumnya. Ukuran limpa masyarakat Bajo juga lebih besar.

Suku Bajo berlabuh di pesisir barat Flores, Nusa Tenggara Timur. Kini mereka telah hidup berdampingan dengan masyarakat Flores. Namun tidak ada catatan pasti mengenai kapan tepatnya Suku Bajo datang ke NTT. Labuan Bajo sendiri adalah salah satu dari 9 desa lainnya yang berada di Kecamatan Komodo. Desa ini juga merupakan ibu kota kecamatan.

Pada hari pertama, saya berlayar menuju Pulau Kelor. Buku yang saya baca saat itu terciprat air laut. Mungkin alam cemburu. Sudah jauh-jauh kemari, saya malah sibuk sendiri. Harusnya saya tercengang menikmati ciptaan Tuhan yang sangat indah ini. Lalu kami melanjutkan perjalanan ke Pulai Menjerite. Tujuannya untuk snorkeling. Sesampainya di sana, saya langsung terjun ke laut, menyapa bumi dan seisinya.

pulau kelor labuan bajo

Pulau Kelor | Gloredtha Ynez Rambe / Cultura Magazine

Di sekeliling kita dapat melihat bukit-bukit yang hijau. Kita tak hanya disambut pemandangan indah di bawah air tapi juga di udara. Ikan-ikan berenang di sekitar saya dan kelalawar terbang di atas kepala. Mereka terbang menuju ke selatan untuk mencari makan. Saya iri. Kapan umat manusia bisa sekompak ikan atau kelalawar? Mereka tidak saling sikut berada di alam. Hidup mereka penuh harmoni.

Puas bermain air, saya beristirahat di Pulau Kalong. Malam sudah datang. Tidak ada sinyal untuk internet. Di sini saya benar-benar menyatu dengan alam. Tidak ada hiburan seperti di kota besar. Hiburannya adalah pemandangan alam. Saat inilah yang tepat untuk bercengkerama dengan sesama manusia lainnya karena tidak akan ada distraksi. Saya berbaring di ujung kapal menikmati malam yang tenang tanpa polusi udara atau cahaya.

Kita disuguhi pemandangan alam yang mencengangkan. Galaksi bima sakti! Indah sekali ciptaan Tuhan yang satu ini. Kita tidak akan dapat melihatnya di metropolitan sana karena lampu-lampu di gedung tingkat akan mengaburkan wujudnya. Sebaliknya, di Labuan Bajo, galaksi bima sakti dapat dilihat sangat jelas. Apalagi musim untuk melihat galaksi bima sakti adalah Bulan Maret hingga Oktober. Puncaknya adalah April hingga Juli. Pemandangan seperti ini tidak boleh disia-siakan. Saya juga beberapa kali bisa menonton bintang jatuh. Sesuatu yang tak ditemukan di Jakarta. Saya teringat, tadi siang pun alam sudah memanjakan mata saya dengan memunculkan sosok pelangi. Semua itu tak dapat ditangkap lensa kamera dan menjadi kenangan abadi yang tertangkap mata.

pulau padar

Pulau Padar | Gloredtha Ynez Rambe / Cultura Magazine

Esok paginya sekitar pukul delapan, saya mendaki bukit di Pulau Padar. Meski melelahkan, keringat saya terbayar sudah dengan pemandangan menakjubkan dari atas situ. Kita dapat melihat tiga pantai dengan warna yang berbeda yaitu hitam, putih, dan pink. Pantai yang berwarna pink itu dijuluki Pink Beach. Tak hanya pantainya yang indah. Pemandangan bawah lautnya juga.

pink beach

Pink Beach | Gloredtha Ynez Rambe / Cultura Magazine

Saya kembali masuk ke dalam air. Di dalam laut saya bertemu ikan manta. Ikan pari ini adalah salah satu yang terbesar di dunia. Bobotnya dapat mencapai 3 ton. Ekornya juga tidak beracun seperti ikan pari pada umumnya. Ukuran otaknya 10 kali lebih besar dibandingkan ukuran otak hiu. Hal ini berkaitan dengan kecerdasan. Uniknya, ikan manta memiliki 300 buah gigi yang tersembunyi di bawah kulit. Gigi-gigi itu tidak digunakan untuk makan, tetapi untuk kawin. Setiap hari ikan manta juga makan berton-ton plankton.

Pulau Taka Makassar

Pulau Taka Makassar | Gloredtha Ynez Rambe / Cultura Magazine

Tanpa disadari, beberapa ubur-ubur mendekati ketika saya asyik bercengkerama dengan ikan manta. Tubuh saya merasakan beberapa sengatan. Anggap saja itu adalah sebuah sapaan. Oh ya, tempat saya berenang itu disebut sebagai manta point. Setelah puas berenang, saya sempat melongok ke Pulau Taka Makassar. Pulau kecil tak berpenghuni ini dapat ditemukan ketika air tengah surut.

Esok adalah hari terakhir saya di Labuan Bajo. Malam ini saya menyempatkan bermalam di Pulau Siaba. Pulau ini dikenal sebagai tempat penyu bersarang. Paginya, saya sempat bermain-main dan melihat-lihat penyu. Hari terakhir sebelum berpisah dengan alam Labuan Bajo saya masih menyempatkan diri terjun ke air. Saya menyelam di Pulau Kanawa. Airnya bening dan ikan-ikannya gemar mendekati ketika ada yang berenang.

Labuan Bajo Cultura Magazine

Pulau Menjerite | Gloredtha Ynez Rambe / Cultura Magazine

Saya bersyukur telah menginjakkan kaki di Labuan Bajo. Tempat yang indah dan akan tersimpan dalam memori. Meski tak selalu dapat mengambil foto sebagai kenangan, semua akan melekat di dalam kepala. Suatu hari ini, saya ingin dapat kembali.

Beautiful story by @gloredthaynez (Gloredtha Ynez Rambe)

Click to comment

Leave a Reply

Connect