Connect with us
posesif review

Film

Posesif Review: Cinta Pertama yang Manis Sekaligus Traumatis

Posesif sekarang bisa ditonton di Netflix.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Netflix selalu merilis sederet film original maupun film bioskop yang sudah tidak tayang lagi. Salah satu judul film Indonesia yang akhirnya bisa kita nikmati adalah Posesif (2017). Film yang disutradarai oleh Edwin dan ditulis oleh Ginatri S. Noer ini mendobrak pasar film remaja romantis dengan cerita yang berbeda.

Dibintangi oleh Putri Marino sebagai Lala dan Adipati Dolken sebagai Yudhis. Lala adalah seorang atlet loncat indah yang masih duduk di bangku SMA. Yudhis merupakan murid baru yang secara tak sengaja berkenalan dengan Lala dengan cara yang lucu dan tak terlupakan bagi keduanya.

Dari situ, tumbuhlah benih cinta yang membuat keduanya memutuskan untuk berpacaran. Lala menganggap Yudhis sebagai cinta pertama yang akan segera berlalu, namun Yudhis ingin hubungan ini menjadi selamanya.

Ginatri S.Noer merupakan penulis naskah dari film remaja “Dua Garis Biru” yang juga mendapatkan ulasan positif tahun 2019 lalu.

posesif film indonesia

Film Percintaan Remaja yang Membuat Tegang

Film percintaan remaja khususnya film Indonesia identik dengan plot cerita yang itu-itu saja. Mulai dari pemeran utama yang mengidap penyakit maupun hubungan yang diawali dari benci jadi cinta. “Posesif” akan mengejutkan kita sebagai penonton, baik yang sudah terbiasa menonton film suspense maupun remaja pada umumnya yang terbiasa menonton teenlit dengan alur cerita template-an.

Kita akan tertipu oleh poster manis dari film ini dengan hati merah pada judulnya yang terlihat manis. Pada babak awal cerita, semua akan terasa manis seperti tipikal drama percintaan remaja yang normal. Mulai dari awal pertemuan Lala dan Yudhis hingga berbagai adegan manis di antara mereka berdua.

Memasuki pertengahan film, Yudhis mulai menunjukan perubahan karakter secara perlahan namun pasti dan semakin tidak terkontrol. Memasuki babak ini kita akan merasakan ketegangan yang tidak akan kita rasakan di film remaja romantis Indonesia lainya.

Memasuki babak terakhir, cerita akan semakin menjadi-jadi dan membuat kita ikut stress seperti kedua karakter utama dalam film “Posesif”. Namun hal tersebut hanya sekedar badai yang bersifat sementara.

“Posesif” tak melupakan genre utamanya sebagai film romansa remaja yang manis.

Akting Perdana Putri Marino yang Berkualitas

Putri Marino dan Adipati Dolken mampu menampilkan chemistry sebagai pasangan muda yang baru saja mengenal cinta. Lala merupakan gadis remaja yang belum pernah mencoba hal lain selain fokus dengan prestasi loncat indahnya. Sementara Yudhis merupakan laki-laki romantis, dengan kelakukan yang manis, namun memiliki kepribadian yang tidak terduga.

Bahkan Putri Marino berhasil memenangkan penghargaan Citra yaitu sebagai Best Leading Role Actress. Perannya sebagai Lala merupakan keuntungan tersendiri bagi aktris 26 tahun ini. Ia berhasil menggunakan kesempatan ini untuk menunjukan bakatnya secara maksimal.

Lala tak hanya dipusingkan dengan hubungannya yang kompleks dengan Yudhis, namun juga hubungan dengan ayahnya dan teman-temannya. Segala emosi dan ketegangan yang kita rasakan dalam film “Posesif” merupakan kesuksesan dari Putri Marino dalam mengeksekusi aktingnya.

Cerita yang Masih Terasa “Dibatasi”

Sayangnya “Posesif” masih terasa “membatasi” diri dalam mengembangkan ceritanya, terutama pengembangan karakter dari Yudhis yang digambarkan sebagai pacar posesif dan misterius.

Yudhis bahkan melakukan beberapa tindakan ekstrem yang lazimnya tidak dilakukan oleh remaja laki-laki pada umumnya. Namun beberapa tindakannya masih terasa tanggung dengan penjelasan latar belakang yang kurang maksimal.

Pemilihan kata dalam dialog-dialog tertentu juga tidak memberikan kejelasan dan membuat penonton mungkin bertanya-tanya apa yang sebenarnya dimaksud oleh para pemain dalam film ini. Hal ini karena penulis tampaknya menghindari beberapa persepsi tertentu yang masih tabu untuk diketahui oleh remaja Indonesia dan karena kembali lagi segmentasi dari film “Posesif” adalah drama percintaan remaja.

Posesif jelas memberikan cita rasa baru dalam industri film teenlit Indonesia. Bagi kita yang sudah lelah dibuat ilfeel dengan kisah remaja cheesy dan berpola sama, film ini akan memberikan ketegangan dan emosi yang sangat berbeda. Sayangnya perpaduan antara drama romantis dan sentuhan thriller dalam film ini masih kurang dieksekusi dengan maksimal karena “batasan” tertentu.

Click to comment

Leave a Comment

Knives Out Review Knives Out Review

Knives Out Review: Film Detektif Original yang Menghibur

Film

pemenang tiff 2019 pemenang tiff 2019

Jojo Rabbit Review: Melihat Perang Melalui Sudut Pandang Bocah 10 tahun

Film

Film dengan Efek Visual yang Buruk Film dengan Efek Visual yang Buruk

Film Dengan Efek Visual Yang Buruk

Film

Film 1917 Review Film 1917 Review

1917 Review: Film Perang Dengan Visual Memukau

Film

Advertisement
Connect