Connect with us
Pom Poko: Cheater Album Review
Photo via NME

Music

Pom Poko: Cheater Album Review

Keunikan dan kegilaan kreativitas dalam album dengan genre campur-aduk.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Panggung musik di tahun 2020 diisi genre yang cukup monoton. Dominasi retro menyematkan irama disco tahun 70-an, hingga pop 80-an dan 90-an nyaris di semua lagu. Tidak banyak musisi yang bisa dikatakan meluncurkan sesuatu yang baru. Pom Poko, untungnya berbeda.

Kuartet asal Norwegia ini justru hadir melalui musik yang memadukan keriangan, sisi jenaka, serta keunikan komposisi instrumen dengan vokal yang manis. Di album kedua, ‘Cheater’ ini, Pom Poko juga masih setia dengan “keanehan” musikalisasi yang mereka angkat. Belum banyak berubah dari album debut ‘Birthday’ yang dirilis tahun 2019 kemarin.

Setelah meluncurkan ‘Birthday’ memang ada kekhawatiran Pom Poko akan mulai menyisih dari jalur art-pop yang digadangkan. Menggadaikan idealisme bermusik melalui keunikan-keunikan tersendiri, demi menjadi mainstream. Nyatanya memang cukup banyak musisi yang mengambil lajur tersebut. Terutama setelah genre anti-mainstream mereka mulai banyak dilirik.

Namun, Pom Poko rupanya belum sepenuhnya menyisir dari kekhasan mereka. Permainan gitar yang samar, mendayu, dan fuzzed-out masih berpadu dengan riuhnya bass serta suara Ragnhild Jamtveit yang berderu manis. Pom Poko juga masih mengusung irama quirky punk, yang kali ini disandingkan bersama dentingan jazz serta rock.

“Dream on, I want what’s never enough,” senandung Jamtveit di title track “Cheater.” Disusul dengan breakdown komposisi ritme funky dari permainan drum Ola Djupvik. Gebrakan permainan gitar ala-ala jazz-grunge Martin Tonne beradu harmonis dengan sang bassist, Jonas Krøvel. Perpaduan ini saja melahirkan instrumen musik yang sudah cukup akan memanjakan telinga.

Pom Poko: Cheater Album Review

Pom Poko: – Cheater

“Cheater” menarasikan jurang antara sukses dan pencapaian. Kontemplasi bagaimana upaya untuk terlihat pintar hanya seolah janji palsu: “Our work was never enough/So dream on dream on/Next time I’ll cheat.”

Track berikutnya menyisipkan progresi unik medieval harpsichord. Gebukan rock yang kental menjadikan “My Candidacy” sebagai ode untuk “living young and free.” Lirik “Goodbye, my friend/ Go out, explore,” yang dibawakan berulang-ulang oleh Jamtveit menjadi penyemangat untuk tidak berhenti di satu titik. Terus bereksplorasi dalam kreativitas tergila sekalipun. Seperti layaknya Pom Poko, ya.

‘Cheater’ tidak banyak berbicara mengenai cinta. Album ini lebih kaya akan keunikan dan kebebasan harmonisasi instrumen dari pada narasi tentang luapan perasaan. Meski bukan berarti mereka sepenuhnya tidak berbicara tentang hati. Di “Curly Romance,” Jamtveit dengan manis menyenandungkan tentang perasaan dan hati yang mereka miliki. Bahwa pada akhirnya, “My heart is just as normal as I think a normal heart would be.” Tentu saja lagu ini juga dibawakan dengan ritme yang membuat pendengarnya ingin ikut bergoyang sembari mengangkat tangan ke udara. A fun “love” song.

Irama party diteruskan dalam “Andy Go To School.” Kali ini, Pom Poko benar-benar menghadirkan irama pesta dalam liukan dan lonjakan instrumen yang dimainkan: “clap your hands and everybody get down!” Sedangkan untuk “Andrew,” synth yang disisipkan berpadu dengan ritme tropical bounce. Menghadirkan harmonisasi liar dan tak biasa.

“Tidak biasa” sepertinya menjadi niche yang ingin dikejar Pom Poko. Tidak ada kesamaan dalam satu track dan lainnya di album ‘Cheater’. Jadi jangan berharap menemukan irama, genre, bahwa komposisi musik mainstream di album sepanjang 30 menit lebih ini.

Pom Poko juga tidak mudah untuk dikotakkan dalam satu genre. ‘Cheater’ membawa musik rock, punk, jazz, tropical, bahkan grunge namun dengan twist tersendiri. Setiap permainan instrumen memiliki not demi not yang berbeda. Dimana anehnya, justru berkolaborasi dengan indah.

Permainan irama gitar dari Martin Miguel Tonne, berseberangan dengan bagaimana Jonas Krøvel membetot bass, dan hentakan drum Ola Djupvik. Terlebih vokal Ragnhild Jamtveit yang terdengar begitu manis, menyentuh, dan mendayu. Seakan tidak tepat untuk band dengan genre campur aduk seperti ini.

Namun anehnya, di tengah ketidak senambungan dan perbedaan masing-masing elemen tersebut justru melahirkan sinergi yang kuat. Masing-masing seolah menggenapi perbedaan satu sama lain. Hingga melahirkan ‘Cheater’, LP yang tidak sekedar anti-mainstream. Namun memiliki ciri khas, keunikan, dan kreativitas yang menggila.

Click to comment
Advertisement
Cultura Live Session
Connect