Connect with us
Pauline Anna Strom
Photo: Aubrey Trinnaman

Music

Pauline Anna Strom: Angel Tears in Sunlight Album Review

Menggambarkan perasaan dan pengalaman melalui aransemen musik elektronik dan gubahan manipulasi rekaman.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Selalu ada sesuatu yang sentimental dari posthumous album. Terlebih bila album tersebut menjadi pertama dirilis setelah 33 tahun. ‘Angel Tears in Sunlight’ menjadi album terakhir dari musisi elektronik Pauline Anna Strom sebelum meninggal dunia pada Desember 2020 lalu.

Pauline Anna Strom memulai karir sebagai musisi elektronik bahkan sebelum genre electronic menjadi tren. Album pertamanya, ‘Trans-Millenia Consort’ dirilis pada 1982 terinspirasi dari kosmische Musik of Tangerine Dream dan juga Brian Eno-led offshot. Kala itu musik rilisan Strom diklasifikasikan sebagai ambient music. Dimana sang musisi menggubah musik dari berbagai media berbeda. Salah satunya manipulasi rekaman air yang diaduk dalam mangkok.

Sayangnya genre electro maupun ambient saat itu belum memiliki pasar. Sampai akhirnya di akhir tahun 80-an, Strom semakin berjarak dengan dunia musik yang sempat digeluti. Nyaris tidak ada rilisan musik baru dari musisi yang juga berprofesi sebagai Reiki master tersebut.

Sampai di tahun 2017, Strom mulai kembali. Lagu demi lagu dari album ‘Trans-Millenia Consort’ juga banyak didengarkan dan perlahan namun pasti menarik minat pendengar secara luas. Di tahun tersebut, musik dengan genre electro memang sedang di atas angin. Strom bahkan menjadi salah satu penampil di home-listening live concert series Oda. Sekaligus juga rencana untuk merilis album kembali.

Rencana untuk merilis album memang terwujud di bulan Februari kemarin. Namun Strom sudah meninggal dunia di usia 74 tahun pada bulan Desember tahun sebelumnya. ‘Angel Tears in Sunlight’ menjadi album terakhir dari sang musisi.

‘Angel Tears in Sunlight’ membawa pendengar kembali ke musik Strom di era tahun 80-an. Album ini dibuka dengan “Tropical Convergence” yang mengedepankan permainan synthesised perkusi yang mirip suara kincir angin dan gamelan. Kualitas dari instrumen bukan hanya berkat perpaduan dinamis yang menciptakan irama unik tersendiri; Dengan adanya layer instrumen lain di latar belakang. Melainkan pula kesuksesan dalam menghadirkan perasaan tenang sekaligus ceria.

Strom rupanya masih banyak mempergunakan teknik manipulasi rekaman dalam rilisannya. Terbukti dengan “Marking Time” yang menginterpolasi suara kincir elektronik berpadu dengan vokal yang berasal dari komputer. Track satu ini memberikan kesan selayaknya hembusan nafas yang kelelahan.

Kreativitas tidak terbatas diperlihatkan pada track “Equatorial Sunrise”, yang seolah terus mengalami peningkatan volume dari menit ke menit. Pengalaman yang tidak kalah menakjubkan hadir pula ketika mendengarkan track “The Eighteen Beautiful Memories” dan “Tropical Convergence”. Kedua track ini memberi debaran-debaran harapan akan hari lebih cerah. Sebuah musim panas yang menyusup ke dalam track melewati beat-free soundscape.

Track yang dihadirkan dalam album ini seolah memberi sebuah perasaan sampai pengalaman tersendiri. Pendengar seakan dibawa ke dalam dunia Strom melalui permainan beat. Dinamika instrumen elektronik yang dihadirkan berpadu harmonis dengan manipulasi rekaman dari kicauan burung, suara serangga, bahkan juga tetesan air. Strom membawa pendengarnya masuk ke dalam dunia impian yang ia bangun melalui musik.

“I Still Hope” menjadi track berikutnya yang menarik. Minor key yang digunakan untuk track ini benar-benar menunjukan Strom tidak kehilangan musikalitas maupun kreativitasnya dalam 33 tahun terakhir. Begitu pun “The Pulsation” yang memfokuskan pada irama drum dengan motif sendiri.

Pada satu wawancara, Strom pernah menyebut dirinya bermimpi dalam warna; Meski dilahirkan dalam keadaan buta. ‘Angel Tears in Sunlight’ seolah menjadi bukti bagaimana ia menggambarkan apa yang dilihatnya dalam mimpi. Bahkan setiap judul track di album ini juga diklaim merefleksikan apa yang ada dalam pikiran sang musisi pada proses kreatif.

Dibandingkan dengan album perdananya, ‘Angel Tears in Sunlight’ jauh lebih ringan dan ceria. Strom memang tidak secara langsung membuat musiknya lebih mudah dinikmati. Namun track demi track di album ini memang lebih mudah dicerna dibandingkan ‘Trans-Millenia Consort’ yang lebih kelam.

Click to comment

Demi Lovato Demi Lovato

Demi Lovato: Dancing with the Devil… The Art of Starting Over

Music

Blxst Blxst

BLXST feat. Ty Dolla $ign & Tyga: Chosen Single Review

Music

Kang Daniel Kang Daniel

Kang Daniel: Antidote Single Review

Music

Dave Grohl, Mick Jagger Dave Grohl, Mick Jagger

Mick Jagger with Dave Grohl: Eazy Sleazy Single Review

Music

Advertisement
Cultura Live Session
Connect