Connect with us
Paper Lives Review
Netflix

Film

Paper Lives Review: Kisah Pilu Anak Jalanan yang Rindu Ibu

Terlalu lama untuk mencapai plot twist, membuat cerita tidak memiliki motif.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Mehmet adalah seorang makelar pemungut rongsokan di Istanbul. Lebih dari sekadar menyambung hidup, Mehmet memiliki kepedulian lebih pada anak-anak jalanan yang Ia pekerjaan, berusaha semampunya untuk memberikan kehidupan yang layak bagi mereka. Hingga suatu hari Ia bertemu dengan bocah misterius bernama Ali yang pada akhirnya memiliki tempat spesial di hatinya.

“Paper Lives” (Kagittan Hayatlar) merupakan film drama asal Turki karya sutradara Can Ulkay. Dibintangi oleh Cagatay Ulusoy, Emir Ali Dogrul, dan Ersin Arici.

Paper Lives Netflix

Hendak Mengekspos Kehidupan Anak Jalanan yang Pilu, Namun Skenario Kurang Universal

“Paper Lives” merupakan film yang dipersembahkan oleh sutradara untuk anak-anak terlantar yang hidup di jalanan. Melalui sudut pandang Mehmet, kita akan melihat kehidupan anak jalanan yang bekerja untuknya. Ia dan rekan yang sudah dianggap sebagai saudara lagi, Gonzi, juga tumbuh besar di jalanan, masih memiliki harapan besar untuk bisa bertemu dengan ibu mereka.

Dengan statement yang jelas pada permulaan film, kita akan memiliki ekspektasi bahwa “Paper Lives” hendak mengekspos kehidupan anak jalanan secara universal untuk menimbulkan simpati. Namun, skenario yang dihadirkan mengandung cerita yang khusus dengan situasi “unik” yang tidak akan kita duga.

Untuk memberikan dampak yang umum, film ini belum berhasil mengungkap sisi natural dan otentik dari kehidupan anak jalanan. Begitu juga isu kesenjangan sosial yang tampaknya hendak diselipkan juga, namun pada akhirnya tidak terlalu signifikan, hanya ada sedikit di prolog film.

Film ini memiliki kisah yang berpusat pada karakter Mehmet dan hubungannya dengan Ali. Ikatan yang terjalin di antara mereka pun cukup membingungkan; apa alasan Ali bisa begitu spesial bagi Mehmet? Akan butuh waktu cukup lama untuk sampai pada babak pengungkapan.

Paper Lives Review

Plot Twist yang Terlalu Jauh Mendekati Akhir, Penonton Keburu Bosan dan Bingung

Plot twist atau jawaban akan dari segala rasa penasaran kita akan terjawab, namun menjelang babak terakhir film. Setelah dibikin penasaran dan cukup kesal pada beberapa bagian cerita, kita harus menelan jawab yang kompleks sekaligus dalam satu adegan collage dengan banyak footage dari masa lalu Mehmet dan flashback dari babak-babak sebelumya. Memang pada akhirnya akan mengubah pandangan dan perasaan kita pada protagonis dalam kisah ini, namun cukup terlambat dan terasa dipaksakan.

Banyaknya informasi yang dihamburkan pada plot twist dieksekusi terlalu cepat, membuat penonton tidak bisa menikmati prosesnya. Ada banyak detail adegan yang pada akhirnya berarti dan cukup masuk akal, sayang sekali kita hanya diberi waktu sebentar untuk terpukau akan kenyataan yang memilukan. Menghilangkan kesempatan untuk penonton benar-benar merasa emosional dan iba. Justru ketika adegan dramatis sebelumnya dieksekusi dengan kecepatan normal, terasa berlebihan dan berusaha keras untuk membuat kita bersedih.

Akting Cagatay Ulusoy yang Emosional dan Totalitas

Naskah dari film ini mungkin memiliki eksekusi yang kurang tepat, namun akting dari Cagatay Ulusoy sebagai Mehmet sudah on point, begitu juga dengan lawan mainnya yang masih muda, Emir Ali Dogrul. Mulai dari ekspresi kesakitan, marah, dan kesedihan yang amat merana, berhasil ditampilkan secara otentik dan meyakinkan.

Namun kembali ke masalah awal dari film ini, motif dari kedua karakter ini terasa kurang meyakinkan. Mereka mungkin tampak berinteraksi satu sama lain dengan nyaman, namun naskah yang sajikan tak berhasil meyakinkan kita atau membuat kita mengerti, apa ikatan spesial dari kedua karakter utama ini?

Pada akhirnya, “Paper Lives” merupakan film tentang anak jalanan dengan kompleksitas kepribadian dan latar belakang kisah yang melankolis. Seharusnya memiliki potensi besar sebagai film yang membuat kita simpati pada protagonis yang menjadi korban dalam sebuah situasi. Namun belum cukup untuk membuat kita paham dan simpati pada anak jalanan secara umum.

Click to comment

Love and Monsters Review Love and Monsters Review

Love and Monsters Review: Petualangan Joel Melawan Monster Demi Cinta

Film

Two Distant Strangers Two Distant Strangers

Two Distant Strangers Review

Film

Thunder Force Thunder Force

Thunder Force Review: Film Superhero dengan Cita Rasa Parodi

Film

The Serpent Review The Serpent Review

The Serpent: Mengikuti Perjalanan Charles Sobrahj Memburu Hippie Traveler

TV

Advertisement
Cultura Live Session
Connect