Connect with us
Pameran Seni Rupa 1st[ART]
Photo: Dicky Bisinglasi/Cultura

Stage

Pameran Seni Rupa 1st[ART]: Recharge Energi Seniman Bali

Bentuk support terhadap seni di Bali, terutama pada masa sulit selama pandemi.

Hampir setahun sudah pandemi COVID-19 melanda. Tak terkecuali Pulau Bali, pulau yang tersohor hingga mancanegara sebagai salah satu tujuan wisata internasional ini pun dipaksa mati suri.

Kawasan Seminyak sebagai salah satu ikon pariwisata Bali tak luput terdampak. Restoran, kafe dan kawasan perbelanjaan terpaksa tutup, tidak ada wisatawan asing yang berkunjung. Ya, sampai artikel ini ditulis, Bali masih belum membuka penerbangan internasionalnya.

Sebulan kemarin, beberapa seniman Bali berkolaborasi dalam sebuah pameran bersama. Alih-alih diadakan di sebuah galeri, pameran kali ini diadakan di sebuah mall di sudut Seminyak, yakni Seminyak Village.

Pameran Seni Rupa 1st[ART]

Photo: Dicky Bisinglasi/Cultura

Head of Marketing Seminyak Village, Danar Reksa, menegaskan bahwa event ini adalah bentuk support terhadap seni di Bali, terutama di masa-masa sulit selama pandemi. Agar dapat menginspirasi orang untuk tetap berkarya dan beraktifitas. Harapannya adalah “Bali Kembali”, kembali bangkit meskipun dengan adaptasi kenormalan baru.

Rupanya pandemi juga punya dampak positif bagi ekosistem seni. “Justru para penikmat seni dan kolektor punya waktu lebih banyak dalam menikmati, mengapresiasi bahkan memutuskan untuk membeli dari rumah mereka masing-masing.” Ungkap  empunya Galeri Zen1, Nicolaus Fransiskus Kuswanto, kolaborator juga inisiator gelaran ini. Menurut Nico, begitu pria ini akrab dipangil, dalam kondisi normal akan nyaris mustahil karena faktor kesibukan masing-masing.

Nico menambahkan, secara online sebenarnya kegiatan seni rupa di Bali terus mengalir. Namun tidak semua karya seni bisa dinikmati secara digital. Datang dan melihat langsung tentu memberikan experience yang berbeda. Itulah salah satu alasan pameran ini digelar. Bedanya, pengunjung pameran di masa pandemi seperti ini tidak sebanyak ketika kondisi normal, karena alasan protokol kesehatan. Mall juga menjadi pilihan karena memungkinkan publikasi yang lebih luas, tidak segmented seperti di galeri. Karena seni itu tidak eksklusif, untuk siapa saja. “Jika Ubud di Gianyar sudah tenar dengan julukan Kota 1000 Galeri-nya, maka Seminyak memberi pilihan alternative lain medium seni; sebuah mall!”, imbuh Nico.

Ditanya soal kondisi psikis para seniman Bali selama pandemi, Nico menjelaskan beberapa kemungkinan. Memang lebih banyak waktu luang yang membuat seniman leluasa berkarya selama pandemi. Hanya saja faktor finansial dan kondisi batiniah yang mungkin mempengaruhi karya para seniman. “Misalnya karena jarang keluar, sehingga mungkin karya menjadi tak seceria biasanya” ucap Nico.

Pameran Seni Rupa 1st[ART]

Photo: Dicky Bisinglasi/Cultura

Pameran bertajuk “1st[ART]” (baca: start) berlangsung mulai 21 January hingga 20 February 2021. Lima galeri ternama turut berkolaborasi, yakni; Galeri Zen1, Jala Gallery, Purpa Fine Art Gallery, Heartlab Bali dan Titian Art Space.

Sebanyak 60 karya seni turut dipamerkan dari 38 seniman dari berbagai daerah di Indonesia, seperti: Atmi Kristiadewi, Dangap Murdika, Erica Hestu Wahyuni, I Gde Sugiada, I Made Ananda Krisna, I Made Suartama, I Made Sujendra, I Made Wahyu Senayadi, I Nyoman Arisana, I Nyoman Bratayasa, I Nyoman Sukariana, I Wayan Aris Sarmanta, I Wayan Dendy Permana, I Ida Bagus Indra, Ida Bagus Punia Atmaja, Ida Bagus Putu Purwa, Ida Bagus Suryantara, Jango Pramartha, Jeihan Sukmantoro, Kabul, Ketut Suwidiarta, Made Winata, Made Wiradana, Michael Palilingan, Nana Teja, Nyoman Sujana Kenyem, Putu Edy Asmara (Asparangi), Rio Riawan, Romi Sukadana, Satya Cipta, Teja Astawa , Triwahyudi, Turi Raharjo, Uuk Paramitha, V Dedy Reru, Wayan Suastama dan Yani Halim, turut serta unjuk karya.

Uniknya, pameran kali ini merangkul kalangan junior hingga senior. I Made Ananda Krisna misalnya, usianya masih 12 tahun. Dia adalah yang termuda yang ada di lokasi pameran saat Cultura berkunjung. Tidak cuma pameran, karyanya berjudul “Wayang 2” juga telah laku terjual. Di usianya yang muda belia, ini menjadi pelecut semangatnya untuk terus berkarya dimana dia adalah masa depan seniman Bali kelak.

I Made Ananda Krisna

I Made Ananda Krisna (Photo: Dicky Bisinglasi/Cultura)

1st[ART] juga turut memamerkan karya-karya legenda; Jeihan Sukmantoro dan Made Wianta. Jeihan Sukmantoro adalah maestro lukis asal Solo, Jawa Tengah, yang telah berpulang pada 2019 lalu. Karyanya berjudul “Ira” dengan goresan khas ekspresionis, dibingkai dengan frame ukuran 100cm x 90cm berwarna emas berukir. Kanvasnya terlihat mulai usang. Warnanya dominan biru dan merah, dengan aksen putih diantaranya menambahkan gambaran sosok wanita dengan auranya yang magis.

Made Wianta juga telah berpulang pada November 2020 lalu. Maestro asal Tabanan, Bali, ini cukup lekat dengan bangun-bangun ekspresif, garis-garis geometris dan aksen kontemporer. Dua karyanya yang turut dipamerkan berjudul “Triangle on Golden Ring” dan “Triangle Gate”, kental dengan gemoetri segi tiganya. Warnanya dreamy dan imajinatif, sedikit progresif dan futuristik, mengingatkan kita pada cover album Pink Floyd; Dark Side of The Moon.

Click to comment
Advertisement
Cultura Live Session
Connect