Connect with us
Memoirs Of A Geisha

Film

Memoirs of a Geisha Review: Pandangan Salah Hollywood Tentang Geisha

Film adaptasi kebudayaan Jepang yang mengarah pada banyak kesalahpahaman.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Memoirs Of A Geisha” merupakan film kontroversial yang rilis pada 2005 silam. Film ini disutradarai oleh Rob Marshall, diadaptasi dari novel dengan judul serupa karya penulis Amerika, Arthur Golden pada 1997.

Berawal dari kisah seorang anak perempuan 9 tahun bernama Chiyo Sakamoto (Suzuka Ohgo) yang dijual ke sebuah rumah geisha. Chiyo tak memiliki hasrat untuk menjadi seorang geisha, hingga suatu bertemu dengan seorang pria yang mengubah tujuan hidupnya.

Pada dasarnya, “Memoirs Of A Geisha” merupakan film drama romantis dengan latar kehidupan masa lampau. Film ini juga memiliki subjek dari kebudayaan Jepang yang menarik untuk disimak dan dipahami, yaitu kehidupan seorang geisha. Namun, bukannya memberikan pemahaman yang benar, ada banyak unsur dalam naskah film ini yang justru mengandung persepsi yang salah tentang geisha. Persepsi dari banyak orang di luar Jepang yang salah dan seharusnya bisa diperbaiki melalui film ini.

Memoirs Of A Geisha

Sederet Aktris China dan Naskah Bahasa Inggris

Dibintangi oleh tiga aktris berdarah Cina; Ziyi Zhang, Gong Li, Michelle Yeoh, “Memoirs Of A Geisha” justru dilarang tayang di bioskop China. Hal ini karena para perempuan China memiliki sejarah kelam bersinggungan dengan Jepang pada masa Perang Dunia II. Ditambah dengan kritik aksen Inggris sederet aktor/aktris Jepang dan China yang tidak sempurna dalam film ini.

Namun, sang sutradara memberikan pembelaan bahwa pemilihan aktris untuk film ini mempertimbangkan kualitas akting dari masing-masing cast. Sayangnya statement tersebut tidak cukup sebagai pembelaan. Dilansir dari The Guardian pada 2005, masyarakat Jepang merasa Hollywood telah memperlakukan kebudayaan mereka sebagai lelucon.

Merupakan suatu kesalahan ketika Rob Marshall menyatakan, bahwa Ia memilih aktris yang dianggap sesuai untuk peran dalam filmnya, terlepas aktris tersebut orang Jepang, China maupun Korea. Statement tersebut semakin memperkuat pandangan orang Amerika yang selama ini dibenci oleh ketiga negara tersebut; bahwa orang Jepang, China, dan Korea otomatis dilabeli sebagai “asian” atau “chinese”. Baiklah jika hal ini seharusnya tidak dipermasalahkan.

Semakin berkembangnya industri perfilman dunia, semakin banyak aktris/aktor yang memainkan peran yang berbeda dengan latar belakang ras-nya. Seperti sederet aktor Inggris yang bermain di film Amerika, salah satunya yang paling baru adalah Kristen Stewart yang bermain sebagai Putri dalam “Spencer”.

Memoirs Of A Geisha

Mengutip pembelaan Rob tentang ‘kualitas akting aktris’, ketiga bintang utama dalam film ini juga tidak memberikan penampilan terbaik mereka. Hal ini karena naskah “Memoirs Of A Geisha” yang dibawakan dalam bahasa Inggris. Selain aksen Inggris mereka terasa sangat mengganjal, hal ini juga membatasi kemampuan setiap aktris dalam mengekspresikan diri. Selain mempengaruhi penampilan aktris/aktor secara teknikal, pemilihan bahasa untuk film ini bisa jadi merupakan kesalahan terbesar dari “Memoirs Of A Geisha”.

Pertama, film ini dibuka dengan bahasa Jepang, kemudian tiba-tiba aktris mulai berbicara dalam bahasa Inggris tanpa alasan yang jelas. Hal ini akan kita temukan sepanjang film, dimana naskah dicampur-campur antara Jepang-Inggris.

Kedua, bahasa secara umum bisa memberikan efek pembawaan kepribadian yang berbeda. Dengan membuat semua karakter berdarah Asia berbicara dalam bahasa Inggris, kepribadian wanita Jepang dalam film ini sama sekali tidak muncul. Tidak ada wanita Jepang asli yang berbicara seperti karakter-karakter dalam film ini.

Mengeksplorasi Kehidupan Geisha dengan Pemahaman yang Salah

Sebagai film adaptasi novel yang ditulis oleh novelis Amerika, “Memoirs Of A Geisha” sudah mengandung banyak persepsi yang salah tentang geisha. Geisha atau Geiko menurut kebudayaan Jepang adalah wanita penghibur profesional yang terlatih untuk menari dan bernyanyi. Mereka juga dibekali keahlian khusus dalam menjamu klien, mulai dari ramah tamah, menyiapkan makanan, dan melakukan upacara minum teh khas Jepang.

Sebagai memoar seorang geisha, film maupun novel dari kisah satu ini tidak menunjukan geisha dengan profound. Bagi kita yang sudah lebih familiar dan memahami kebudayaan Jepang, “Memoirs Of A Geisha” terlihat seperti fantasi setiap laki-laki Caucasian tentang wanita dalam balutan kimono dan riasan yang unik yang menjual diri alias sebagai pekerja prostitusi. Tidak dipungkiri, ada geisha yang mau tidur dengan kliennya, namun hal tersebut bukan prinsip utama dari seorang geisha.

Memoirs Of A Geisha Review

Keindahan riasan dan kostum yang diaplikasikan dalam produksi film ini juga tak terbantahkan kualitasnya. Namun mengandung banyak kesalahan yang detail. Model rambut, pemilihan kimono, hingga simpul obi geisha lebih dari sekedar atribut fashion, namun ada berbagai makna yang menunjukan status dari seorang geisha maupun maiko.

Kesimpulannya, geisha merupakan bagian dari kebudayaan Jepang yang mengandung berbagai seni hiburan dan presentasi jamuan tradisional. Namun, “Memoirs Of A Geisha” lebih menggaris bawahin sisi lain (yang tak terelakan) dari kehidupan seorang geisha, kemudian memperkuat pemahaman yang selama ini sudah salah, dan tidak memberikan pencerahan.

Film Drama Kolosal dengan Produksi yang Artistik

Kualitas produksi “Memoirs Of A Geisha” sebagai film drama kolosal dikerjakan dengan maksimal dan megah. Film ini memenangkan berbagai penghargaan bergengsi untuk produksinya, mulai dari Academy Awards, Golden Globe, hingga BAFTA Awards. Mulai dari keindahan latar syuting, sinematografi, hingga lagu tema yang dikerjakan oleh John Williams.

Film ini memang indah secara visual, namun tidak bermakna. Dalam segi cerita pun, “Memoirs Of A Geisha” lebih dominan dengan unsur romansa manis-getir, melankolis dan tragis. Kisah Chiyo sebagai protagonis yang kemudian berubah menjadi Sayuri mengandung sebuah perasaan cinta yang indah, namun memiliki kemasan (yaitu latar kebudayaan Jepang) dengan referensi yang salah.

Bagi penggemar film romansa dan tidak keberatan dengan berbagai kesalahan kebudayaan Jepang yang terkandung, mungkin film Rob Marshall ini bisa cukup menghibur. Namun, jika kita memiliki ekspektasi tentang memoar kehidupan geisha yang mendalam, “Memoirs Of A Geisha” akan langsung mengecewakan sejak babak pertama.

A World Without Review A World Without Review

A World Without Review: Dystopia Futuristik Bertema Pemberdayaan Wanita

Film

Malignant Review Malignant Review

Malignant Review: Bukti Lelahnya Sang Sineas

Film

Rekomendasi Film Bertema Vampir Rekomendasi Film Bertema Vampir

10 Rekomendasi Film Bertema Vampir

Cultura Lists

Violet Evergarden: Eternity and the Auto Memory Doll Review

Film

Advertisement
https://www.cultura.id?_dnembed=true
Connect