Connect with us
madison beer
Photo via NME.com

Music

Madison Beer: Life Support Album Review

Debut album apik yang minim jati diri dan kedalaman lirik.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Madison Beer akhirnya meluncurkan album debut pertama yang ditunggu-tunggu. Sebelum ‘Life Support’, Madison Beer sudah merilis sederet single yang menjadi hits. Meski perilisan album debut sempat terganjal pergantian label sampai sederet skandal dan kontroversi.

Sebagai album debut, ‘Life Support’ tidak berupaya memperkenalkan Madison Beer sebagai seorang penyanyi. Album yang diproduseri dan ditulis oleh Beer bersama Leroy Clampitt dan beberapa produser serta musisi lain ini pun tidak melekatkan karakter tertentu pada sang penyanyi. Nampak dari berbagai genre yang diikutsertakan dalam track dan pengaruh dari artis-artis lain.

Nama Madison Beer mulai meroket pada 8 tahun lalu. Saat penyanyi yang saat ini berusia 21 tahun tersebut tanda tangan kontrak dengan Island setelah Justin Bieber memposting video cover-nya untuk “At Last” dari Etta James.

Sayangnya kontrak dengan label besar tidak memastikan jalan karir Beer mulus. Ia justru tersandung berbagai skandal dan kontroversi. Mulai dari tudingan meromantisasi lolita dan berbohong tentang operasi plastik. Sampai meniru Ariana Grande. Beer keluar dari Island tiga tahun usai teken kontrak karena merasa terpenjara dengan image “Disney queen” yang diberikan label.

Madison Beer Life Support

“Good in Goodbye” membuka album ini dengan cukup menjanjikan. Irama trap drum dengan sound effect bergaya maksimalis mengiringi liukan vokal Beer. Track yang kental akan nuansa R&B ini sedikit banyak mengingatkan pada hits-hits milik Demi Lovato.

Sumbangan vibe dari musisi lain pun sama kentalnya di track selanjutnya, “Default.” Lagu yang digubah oleh Beer bersama Clampitt dan Rachel Keen ini mengusung permainan string yang hampir menyerupai gaya instrumen Evanescence. Kesan kelam yang dihadirkan menegaskan pula kemiripan gaya musikalitas tersebut.

“Default” hadir sebagai track melodramatis yang sendu sekaligus kelam. Lagu ini seolah tepat mengiringi perjalanan Beer dalam “berperang” dengan kesehatan mental selama proses kreatif ‘Life Support.’

Dibandingkan dengan “Default” dan “Good in Goodbye,” “Follow the White Rabbit” memiliki beat yang lebih catchy. Kali ini Beer menyisipkan penggambaran ala negeri dongeng di Alice in Wonderland. Instrumen bass nan ciamik menjadi highlight tersendiri.

Skandal mengenai dirinya sebagai peniru Ariana Grande rupanya tidak dianggap pukulan oleh Beer. Sebaliknya Beer justru menyertakan track “Effortless” yang dengan mudah mengingatkan pendengar akan sang superstar.

Spacey art pop yang dikedepankan pada track ini nyaris bisa disamakan dengan era ‘Dangerous Woman’ yang menjadi puncak kesuksesan Grande. Olah vokal Beer yang terdengar distorted, mengambang, dan penuh desahan juga menjadi ciri khas lain dari Grande.

Lirik di “Effortless” menggambarkan pengalaman pertama Beer mengkonsumsi obat untuk borderline personality disorder yang ia alami; “I’m still fading / I can’t save me,” nyanyinya, sebelum menambahkan: “I used to do these things so effortlessly”.

“Stay Numb and Carry On” hadir sebagai track berikutnya dan masih mengangkat tema tentang kesehatan mental. Track ini dipenuhi metafora tentang cherry Alka-Seltzer untuk mendeskripsikan gangguan serangan kecemasan. “Shake it up, and find some shelter to hide,” Beer menarasikan melalui vokalisasi ala pseudo-rap.

Sekilas track tersebut membawa vibe serupa dengan rilisan Twenty One Pilots. Hanya dengan balutan R&B yang lebih dominan.

“We were like a California sunset, faded to die any minute / Getting rid of you might be the best thing I ever did“ dendang Beer dalam “Blue,” yang kali ini mirip dengan lagu-lagu Lana Del Rey. Genre alt-pop yang diangkat bersama tema tentang toxic relationship semakin menegaskan signature Lana di lagu ini. Meski tak bisa diabaikan bagaimana vokal Beer diiringi synth pop terdengar begitu memukau.

‘Life Support’ menghadirkan keunikan berbeda dengan digunakannya sampel Rick and Morty di “Homesick.” Beer menyanyikan lirik syahdu seperti “These ain’t my people, ain’t my crew, it ain’t my planet” hanya dengan iringan gitar nan syahdu.

Beer juga menyentuh genre psychedelic rock melalui “Sour Times.” Sedangkan “Stained Glass” memiliki nafas Radiohead berpadu lirik penuh pengharapan mengenai healing process dari masalah kesehatan mental yang dialami: “Cause you will never know what I’ve been through / You should be a little more gentle”.

“Baby,” yang memiliki judul asli “Prescription Love” merupakan salah satu hit single Beer dan menceritakan tentang bahayanya bergantung pada cinta. Tema yang cukup solid ini sayang gagal dieksekusi dengan apik dan berakhir layaknya lagu R&B tentang sex dan cinta kebanyakan.

Sebagai track penutup dihadirkan “Everything Happens For A Reason” dengan irama country ballad yang cukup unik. Meski Beer masih belum berhasil menunjukan identitas diri melalui track ini.

Sebagai debut album, ‘Life Support’ memang seolah kehilangan identitas. Terlalu banyak genre yang berusaha disertakan. Serta berbagai influence dari musisi, artis, dan penyanyi berbeda.

Terlebih kemampuan Beer dalam menulis lirik juga masih sangat standar. Perumpamaan yang digunakan, seperti “Ain’t no I in trouble/Just the U since we met”di “Good in Goodbye,” maupun countdown yang digunakan di chorus “Emotional Bruises” sudah banyak digunakan dalam lirik-lirik lagu lain. Beer juga tidak berhasil mendalami perjalanan tentang kesehatan mental yang menjadi pengiring proses kreatif di album ini.

Akhirnya ‘Life Support’ menjadi album dengan komposisi vokal dan produksi yang apik. Namun minim jati diri serta kedalaman makna dalam lirik.

Click to comment

dua lipa brit awards 2021 dua lipa brit awards 2021

Dua Lipa Dominasi Panggung BRIT Awards 2021

Entertainment

Julia Michaels Julia Michaels

Julia Michaels: Not in Chronological Order Album Review

Music

The Armed The Armed

The Armed: ULTRAPOP Album Review

Music

Young Stoner Life Young Stoner Life

Young Stoner Life: Slime Language 2 Compilation Album Review

Music

Advertisement
Cultura Live Session
Connect