Connect with us
Karl Lagerfeld

Entertainment

Karl Lagerfeld: Jenius Puritan Yang Membenci Perempuan

Apakah kontroversi yang ditimbulkan hanya tentang perempuan dan berat badan?

Siapa tak kenal seorang desainer jenius Karl Lagerfeld, kiprahnya di dunia mode telah diakui banyak orang. Ia bahkan dianugerahi penghargaan mode paling prestisius dari Pemerintah Prancis, La Médaille Grand Vermeil de la Ville. Ia pun telah mencicipi bekerja di banyak rumah mode ternama seperti Balmain, Chanel, dan Fendi. Kisah cintanya juga menarik perhatian publik. Di luar semua kehebatan Karl, orang juga mengenalnya sebagai sosok kontroversial.

Sejak usia 6 tahun, Karl telah bercita-cita menjadi orang ternama. Ia suka membaca dan menggambar, bahkan dua kegiatan itu setia dilakukannya untuk mengisi waktu luang ketika dewasa. Ia cenderung menolak teknologi. Membenci media sosial, tidak suka telepon genggam. Karl dibesarkan dari keluarga yang mapan dan selalu hidup enak. Hal ini membuatnya tidak suka sesuatu yang biasa-biasa aja. Ia pernah berkata hanya mau bekerja di perusahaan besar yang punya dana untuk beriklan.

Karl dan kontroversinya

Sebenarnya ketika ia bergabung dengan Chanel, banyak pihak yang tidak setuju. Chanel dianggap sebagai rumah mode yang sekarat dan tak lagi punya masa depan. Namun Karl merasa sangat yakin dapat mengubah keadaan tersebut. Ironinya, di kemudian hari ia mencela Coco Chanel dengan menyebutnya “tidak cukup jelek untuk menjadi seorang feminis.” Di kemudian hari, pernyataan kontroversialnya terus muncul yang terutama ditujukan kepada perempuan.

Apakah kontroversi yang ditimbulkan hanya tentang perempuan dan berat badan? Jawabannya adalah tidak. Karl juga diketahui seorang islamofobik. Ia mempertimbangkan menanggalkan kewarganegaraan Jerman-nya karena tidak setuju dengan sikap Angela Markel yang menerima imigran dari Suriah. Ia juga anti semit.

Karl Lagerfeld sempat mengkritik Meryl Streep yang ia sebut sebagai aktris genius tetapi murah. Meryl Streep dituding memilih gaun rancangan desainer lain yang mau membayarnya. Tudingan tersebut ditepis oleh Meryl Streep yang mengatakan tak pernah meminta bayaran untuk apapun yang ia kenakan. Hal serupa juga terjadi pada Heidi Klum. Karl Lagerfeld menyebutkan bahwa ia tidak mengenal Heidi Klum dan model papan atas ini ia sebut sebagai “tidak pernah dikenal di Prancis”. Padahal Heidi Klum adalah salah satu supermodel papan atas dan sudah memakai rancangan Karl. Jauh sebelum Heidi Klum menikah dengan penyanyi Seal, Karl juga pernah mengejek kulitnya. Ia mengatakan bahwa kulitnya lebih bagus dari kulit Seal yang terlihat seperti kawah. Seal sendiri diketahui memang memiliki penyakit kulit kronis.

Ketika ditanya pendapatnya mengenai kaitan antara industri fashion dengan gangguan makan, Karl Lagerfeld mengatakan bahwa jumlah perempuan yang mengalami obesitas lebih banyak dibanding yang bertubuh kurus. “Anoreksia tidak memiliki kaitan dengan fashion.” Pernyataan selanjutnya berubah menjadi fat shamming. “Tidak ada yang mau melihat perempuan bertubuh curvy. Fashion adalah tentang mimpi dan ilusi.” Di kesempatan berbeda ia juga sempat menyebut Adele “sedikit gemuk” meski wajahnya cantik dan suaranya bagus. Ia menyebut Lana Del Rey memiliki implan.

“Fashion is a language that creates itself in clothes to interpret reality.”

Daftar mengenai pernyataan kontroversial seorang Karl Lagerfeld masihlah panjang. Ia menyebut Lady Diana sebagai, “dia cantik dan manis tetapi bodoh.” Setelah Lady Diana tiada dan Pangeran William menikah, ia kembali berceloteh. Menurutnya Kate Middleton sangat seksi meski sang ibu jauh lebih seksi. Sebaliknya ia berkomentar mengenai saudari Kate Middleton, “Aku tidak menyukai wajahnya. Sebaiknya ia hanya menampakkan punggungnya.” Meski demikian ia juga tak pelit untuk memuji, ketika seorang perempuan memenuhi standar kecantikan yang ia tetapkan. Beberapa selebriti perempuan yang ia puji adalah Julianne Moore, Jessica Chastain, dan Kristen Stewart. Ia juga menjadikan Lily Rose Depp sebagai muse sejak berusia sangat belia.

Semua pernyataan kontroversial seorang Karl Lagerfeld tidak jua membuat tahtanya lengser dari dunia mode. Ia tetap disegani dan dihormati karena kiprahnya. Tak hanya seorang desainer, Karl menjajal bidang apapun yang ia mampu seperti menjadi fotografer, seniman, hingga sutradara film. Gaby Aghion, pendiri label busana Chloe, mengakui kejeniusan Karl Lagerfeld. Ia memuji Karl yang bisa memberikan opsi hingga 20 buah desain dalam sehari. Tak sekedar merancang busana, Karl juga diketahui merancang tata panggung untuk pagelaran busana Chanel.

Pandangan miring Karl Lagerfeld terhadap perempuan dan feminisme semakin mencuat ketika gerakan #MeToo muncul. Ia membela seorang stylist yang dituduh melakukan pelecehan seksual dengan mengatakan bahwa, “Jika kamu tidak mau celana dalammu ditarik, jangan menjadi seorang model! Bergabunglah dengan sebuah biara.” Ia mengaku akan merasa malu bila memiliki anak perempuan yang jelek. Baginya, ide untuk memiliki banyak anak hanya cocok untuk perempuan. Ia menganggap seorang lelaki tidaklah menginginkan hal itu. Sebenarnya pandangan ini juga terkait dengan ia yang menolak berkeluarga dan orientasi seksualnya.

Karl memandang dirinya sebagai seorang puritan

Karl pernah memiliki seorang kekasih, yaitu seorang pria bernama Jacques de Bascher. Hubungan ini berakhir setelah 18 tahun karena de Bascher meninggal dunia akibat AIDS. Setelah itu Karl diketahui tidak pernah memiliki hubungan dengan orang lain. Dalam sebuah wawancara ia mengakui tidak pernah berhubungan seks dan tidak terarik dengan seks. Ia juga mengakui tahu mengenai bagaimana perilaku de Bascher di belakangnya seperti mengonsumsi rokok, alkohol, narkoba, dan berhubungan seks dengan banyak orang. Saking cintanya pada de Bascher, Karl Lagerfeld tidak peduli dengan seluruh sisi gelap pria itu dan memilih hanya mengagumi sisi terangnya saja. Karl Lagerfeld memandang dirinya sebagai seorang puritan, seorang calvinistic. Ia mengakui bahwa dirinya sangat berkebalikan dengan de Bascher yang berusia lebih muda.

Sebenarnya pernyataan-pernyataan Karl tidak dapat dibenarkan meski ia mendapatkan posisi prestisius di dunia mode. Namun tidak ada yang melakukan kritik padanya atau melakukan boikot karena pengaruhnya yang dianggap terlalu besar. Serangan-serangan yang ia alamatkan pada berapa figur publik perempuan tidak seharusnya dianggap sebagai masalah personal. Seorang Karl tak berhak mengatur opini publik dan mengklafisikan tubuh perempuan; mana yang boleh disebut cantik atau mana yang tidak, begitupun mana tubuh yang bagus maupun yang tidak. Hingga ajal menjemput ia tetap mendapat pemakluman bahkan dukungan dari tokoh-tokoh mode dan selebriti dunia.

Click to comment

Leave a Reply

Advertisement Cultura Lists
Connect