Connect with us
Jakarta Maghrib Review

Film

Jakarta Maghrib Review: Mengenal Sisi Dasar Penduduk Ibu Kota

Banyak hal yang terpampang pada berbagai sudut yang menyelubungi penduduk Jakarta.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Penduduk di Indonesia memiliki keragamannya masing-masing, seperti halnya di kota Jakarta. Tidak hanya saat sedang dalam hiruk pikuk kemacetan, keragaman ini juga muncul pada momen sakral bagi sebagian besar orang, yakni Maghrib.

Mendekati Maghrib, ada bermacam-macam hal yang tertumpah ruah dalam setiap manusia yang tinggal di Jakarta. Hal tersebut yang kemudian mendorong munculnya satu film omnibus di tahun 2010 berjudul “Jakarta Maghrib”.

“Jakarta Maghrib” merupakan film arahan Salman Aristo, yang sekaligus menjadi debut penyutradaraannya. Terdiri dari enam segmen dan dibintangi beragam aktor-aktris Indonesia ternama, filmnya mengisahkan berbagai perspektif yang ditampilkan oleh berbagai orang di Jakarta sebelum adzan Maghrib berkumandang.

Segmen pertama “Jakarta Maghrib” dibuka dengan “Iman Cuma Ingin Nur” yang dibintangi oleh Indra Birowo, Widi Mulia, dan Yurike Prastika. Segmennya bercerita tentang Iman, seorang suami yang telah melembur karena bayinya yang sakit. Yang ia inginkan hanya satu, berhubungan bersama sang istri, Nur. Namun, adzan Maghrib mengubah segalanya.

“Iman Cuma Ingin Nur” membahas mengenai isu rumah tangga dari penduduk Jakarta, sesuatu yang dianggap sangat personal. Tentang bagaimana seorang suami harus bergumul dengan rumitnya bekerja di Jakarta dan berhadapan dengan ekspektasi orang lain, terutama dari mertua. Semua cast mampu tampil apik di dalamnya, menjadikan segmen ini layak untuk membuka cerita-cerita lainnya dalam Jakarta Maghrib.

Segmen selanjutnya adalah “Adzan”, dibintangi oleh Asrul Dahlan dan Sjafrial Arifin. Berkisah tentang seorang preman dan marbot masjid yang sehari-harinya bekerja seorang diri mengurus warungnya. Keduanya kemudian berdiskusi mengenai ragam hal, mulai dari pekerjaan hingga kematian. Walau begitu, semuanya mendadak berubah kala Maghrib tiba.

Preman dan marbot masjid adalah dua hal yang rasanya tidak mungkin disatukan. Akan tetapi, Adzan ini menyatukan keduanya dalam kontemplasi mengenai seluk-beluk kehidupan manusia. Belum lagi dengan penutup dalam segmen tersebut yang membuatnya mudah sekali menyentuh ragam lapisan masyarakat Ibu Kota.

Segmen ketiga yang ditampilkan diberi judul “Menunggu Aki”, membawa bintang-bintang seperti Lukman Sardi, Ringgo Agus Rahman, Fanny Fabriana, dan Deddy Mahendra Desta. Mengisahkan tentang sekelompok warga komplek yang menunggu kedatangan Aki, sang penjual nasi goreng keliling. Walau memiliki latar belakang yang berbeda, mereka kemudian dipersatukan sambil menunggu kedatangannya dan menceritakan ragam hal. Akan tetapi, semuanya kembali ke kehidupannya masing-masing ketika adzan Maghrib berkumandang.

Individualitas selalu ada dalam berbagai sudut masyarakat, terutama di Jakarta. Aspek tersebut sangatlah kentara, terutama bagi mereka yang hidup di pemukiman menengah ke atas dan lebih sering berjibaku dengan pekerjaan. Hal yang menyatukan mereka adalah common interest, meski pada akhirnya semua akan kembali menjadi individualis. Diiringi dengan permainan kamera long take yang seakan tanpa cut, “Menunggu Aki” mampu menangkap momen tersebut dengan nyata dan relatable.

Setelah melihat ragam orang dewasa, anak sekolahan di Jakarta juga tak luput menjadi sorotan dalam “Jakarta Maghrib”. Seperti yang ingin diutarakan Salman Aristo dalam segmen “Cerita Si Ivan” yang dibintangi Aldo Tansani dan Ence Bagus.

Bercerita mengenai Ivan, seorang siswa Madrasah yang bolos demi bisa bermain game di rental favoritnya. Tanpa ia duga sebelumnya, rental yang ia sambangi tersebut sedang penuh dengan anak-anak seumurannya. Supaya kebagian jatah bermain, ia pun mulai mengeluarkan berbagai cerita mistis. Walau berhasil menakuti lainnya, Ivan pun pada akhirnya juga ikut termakan ceritanya sendiri ketika waktu Maghrib datang.

Setiap orang tentu berusaha keras untuk memenuhi apa yang mereka inginkan, seperti halnya Ivan dengan video game. Segala cara ia halalkan demi mendapatkannya, namun tak jarang pula muncul akibat yang nantinya akan ia rasakan. Kelihaian Aldo Tansani kala berakting dalam “Cerita Si Ivan” ini membuat kisahnya nampak nyata dan mudah sekali untuk diilhami berbagai orang, bahkan yang berada di luar Jakarta sekalipun.

Masih ada dua segmen lagi dalam “Jakarta Maghrib”. Setelah menampilkan “Cerita Si Ivan” yang bertema komedi dengan sedikit sentuhan mistis, hadirlah segmen “Jalan Pintas” yang dibintangi Reza Rahadian dan Adinia Wirasti. Ceritanya seputar sepasang kekasih yang harus berhadapan dengan kemacetan Jakarta dan hubungan mereka yang ditentukan oleh satu deadline. Inilah yang kemudian mendorong keduanya untuk menempuh jalan pintas, mengubah lajur hubungan mereka di masa depan.

“Jalan Pintas” menampilkan bagaimana idealisme yang dimiliki oleh para muda-mudi di Jakarta. Meski begitu, mereka juga tetap perlu berhadapan dengan realitas yang dialami, menjadikan keduanya terpenjara dalam ekspektasi dalam hidupnya. Walau segmen tersebut sepenuhnya dihabiskan dalam mobil, dialog dan penampilan Reza Rahadian dan Adinia Wirasti mampu tampil menawan dengan segala konflik yang menyelubungi mereka.

Sebagai penutup lima kisah dalam “Jakarta Maghrib”, muncul segmen berjudul “Ba’da”. Segmen ini menyatukan kisah-kisah sebelumnya, menampilkan beberapa pemeran yang tampil sudah tampil lebih dahulu di segmen lain.

Segmen ini nampaknya tampil untuk bersenang-senang bersama dengan segmen lain. Sebagai pembedanya, “Ba’da” mengusung aspek penceritaan yang menutup keseluruhan kisah sehingga tak ada loose ends yang menyebalkan. Bisa dibilang, segmen akhir ini terasa trivial semata.

Pada akhirnya, “Jakarta Maghrib “mampu menangkap ragam sisi dalam masyarakat Ibu Kota, terutama menjelang adzan Maghrib. Terdiri dari enam cerita berbeda, semuanya mampu tampil hidup dan mudah sekali untuk menyentuh bermacam-macam lapisan masyarakat, bahkan bagi yang tidak tinggal di Jakarta sekalipun. Film ini bisa ditonton di dua platform, yakni GoPlay dan Vidio.

Click to comment
Advertisement
Cultura Live Session
Connect