Connect with us

Film

Hope Review: Detail Penderitaan Penyintas Kekerasan Seksual

Proses pemulihan korban dan kritik terhadap lemahnya sistem peradilan.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Hope” (2013) merupakan film Korea Selatan yang disutradarai oleh Lee Joon Ik, seorang produser sekaligus sutradara yang baru-baru ini kembali bersinar di 57th BaekSang Arts Awards karena berhasil meraih Grand Prize lewat karya terbarunya “The Book of Fish” (2021).

Film “Hope” (judul asli: So-won) adalah karya Lee Joon Ik yang paling populer dan tercatat mendapat banyak penghargaan di Korea Selatan. Film ini bahkan memenangkan 34th Blue Dragon Film Award untuk kategori Best Film mengalahkan beberapa nominasi kuat seperti “The Face Reader” (2013) dan “The Berlin File” (2013).

Film yang menguraikan penderitaan panjang seorang penyintas kekerasan seksual yang masih di bawah umur dan, kisah sedih orangtua korban ini berhasil membuat air mata mengalir sepanjang film dimainkan.

Hope

Film yang Diangkat dari Kisah Tragis

Kejadian kekerasan seksual yang dialami oleh anak di bawah umur adalah sebuah tragedi yang patut menjadi derita semua orang yang masih memiliki hati nurani. Impian tentang terciptanya dunia ideal yang aman dan nyaman untuk semua orang, dengan mudahnya bisa tercoreng atas adanya kisah tragis yang menimpa seorang gadis berumur delapan tahun, yang namanya dibiarkan samar menjadi “Nayoung”.

Tragedi yang dikenal dengan nama “Kasus Nayoung” ini terjadi di Korea Selatan pada tahun 2008, dimana seorang gadis kecil harus menjadi korban kebejatan manusia tidak berakal. Kisah ini kemudian diangkat menjadi film berjudul “Hope” yang naskahnya ditulis oleh Jo Jong Hoon dan Kim Ji-hye.

Film yang sempat mendapatkan kritikan pedas karena dianggap mengambil keuntungan dari penderitaan yang dialami oleh penyintas ini, nyatanya bisa menjadi gambaran detail tentang masa-masa sulit yang dialami oleh korban dan orang-orang disekitarnya.

 

Derita Jangka Panjang Gadis Kecil Penyintas Kekerasan Seksual

“Hope” melaju dengan cerita tentang seorang gadis kecil periang bernama Im So Won (Lee Re), yang suatu hari mengalami tragedi sangat memilukan. Ia menjadi korban kekerasan seksual oleh seorang pemabuk di gang kecil dekat sekolahnya.

Detail penderitaan So Won kemudian terekam jelas semenjak kejadian tersebut, ia mengalami kerusakan fatal di bagian usus dan anusnya sehingga sepanjang hidupnya harus memakai kantong kolostomi.

Apa yang dialami oleh So Won, menjadi mimpi buruk untuk banyak orang terutama kedua orangtuanya Im Dong-hoon (Sol Kyung-gu) dan Kim Min-hee (Uhm Ji-won). Mereka memperlihatkan penderitaan terberat sosok orangtua yang berusaha mengais sisa-sisa harapan pada anak semata wayangnya yang terluka.

Kritik Tajam Terhadap Sistem Peradilan Korea Selatan

Selain merekam detail penderitaan penyintas yang harus menanggung lukanya seumur hidup, “Hope” juga memberikan panggung besar untuk melempar kritik tajam terhadap sistem peradilan yang ada di Korea Selatan.

Seperti yang banyak diketahui, kasus-kasus tentang pelecehan dan kekerasan seksual memang sedikit sulit segi penanganannya. Karena menyangkut kesaksian dari dua belah pihak yang pembuktiannya tidak cukup hanya dari opini saja, tetapi membutuhkan bukti konkret yang sangat sulit didapatkan.

Film ini menampilkan bagaimana seorang anak kecil umur delapan tahun, yang merupakan penyintas harus bersedia diguncang kembali emosinya untuk sekadar mencari fakta siapa sosok yang menyakitinya.

Tidak cukup sampai situ, keluarga korban juga harus dihadapkan dengan kemungkinan buruk yang akan terjadi sepuluh hingga dua puluh tahun lagi saat terdakwa dibebaskan. Anaknya akan kembali terancam bahkan saat umurnya belum genap menginjak usia dewasa.

Proses hukum di Korea yang berbelit, prosedural yang mengancam kesehatan jiwa korban, dan kontroversi pengurangan hukuman karena gangguan mental akibat alkoholisme menjadi sorotan tajam film ini, dan menjadi bentuk kritik tajam terhadap sistem hukum yang tidak mencerminkan keadilan.

Tokoh Kokomong Sebagai Alegori “Harapan”

Film “Hope” tidak sepenuhnya mengandung tangisan dan kesedihan saja, namun juga dialiri adegan-adegan emosional yang indah antara So Won dan Ayahnya. Keberadaan tokoh kartun favorit So won, Kokomong menjadi satu titik terang akan kebahagiaan yang suatu saat bisa didapatkan kembali oleh keluarga Dong-hoon.

Interaksi antara ayah dan anak yang sempat tidak baik-baik saja karena kondisi So-won yang masih menyimpan trauma pada sosok lelaki dewasa. Bisa kembali membaik berkat adanya Kokomong, badut yang seolah memberi harapan pada babak baru kehidupan So Won.

Selain memperlihatkan banyak adegan sedih. Berkat sinematografi dari Kim Tae-gyeong, “Hope” mampu menghadirkan gambar-gambar sinematik yang membingkai kehangatan keluarga dengan porsi yang pas. Khususnya kedekatan antara So Won dan sosok ayahnya Dong-hoon.

Pada akhirnya, film dengan durasi 122 menit yang juga dibintangi oleh aktris senior Kim hae-sook ini, bisa menjadi rekomendasi tontonan saat ingin menikmati film dengan cerita yang bagus.

Triangle of Sadness Triangle of Sadness

Triangle of Sadness Review: Satir Tentang Kesetaraan Duniawi

Film

first blood 1982 first blood 1982

First Blood Review: Awal Perjuangan Rambo Menghadapi Trauma Perang 

Film

Slumberland Review Slumberland Review

Slumberland Review: Petualangan Nemo & Flip Lari dari Kenyataan

Film

The Holiday The Holiday

The Holiday Review: Tontonan Musim Liburan yang Ringan & Romantis

Film

Connect