Connect with us
Film Komedi Satire
A Serious Man (2009)

Film

Film Komedi Satire: Lebih Dari Sekedar Hiburan yang Mengundang Tawa

Kritisi isu sosial hingga politik dengan materi humor.

Film merupakan salah satu media komunikasi yang bisa kita manfaatkan untuk menyebarkan pesan tertentu. Lebih dari sekedar hiburan yang kita nikmati sambil makan popcorn, beberapa film memiliki cerita yang begitu kuat dan mampu menginspirasi penontonnya.

Kita bisa mengetahui betapa nasionalismenya seorang Winston Churchill melalui film The Darkest Hours (2017), hingga kisah wanita kulit hitam pertama yang bekerja di divisi utama NASA melalui film Hidden Figures (2016). Tak hanya bermuatan sejarah, masih ada banyak film yang memuat berbagai pesan lainnya seperti kesehatan mental, kesetaraan gender, atau sekedar filosofi kehidupan dalam film bertema remaja.

Salah satu trend dalam film yang kembali populer adalah film komedi satire. Dimana sebuah film tidak hanya ditulis untuk mengundang gelak tawa, namun juga memiliki pesan yang samar-samar di permukaan. We’re sick of serious content, film keluarga yang menggurui hingga film bermuatan sejarah yang menyuguhkan kengerian dan kepiluan. Itu mengapa bahasa sarkasme, budaya meme, dan komik satire di pojok koran bisa menjadi hiburan di kehidupan modern dengan segala masalahnya.

Apa Itu Komedi Satire?

Komedi satire merupakan sebuah genre seni yang bisa diterapkan dalam berbagai media. Tak hanya film, konten satire pada awalnya lebih banyak diterapkan pada karya literasi, komik, hingga materi stand-up comedy.

Satire merupakan sebuah formula komedi yang ditujukan untuk menyindir pihak tertentu, misalnya pemerintah, suatu kelompok sosial yang masih konservatif, hingga berbagai isu politik dan sosial yang ada di masyarakat.

Berbeda dengan sarkasme yang lebih blak-blakan, satire menggunakan komedi sebagai media menyampaikan sindiran. Membuat kita menertawakan kebodohan atau perilaku tidak manusiawi dari pihak yang menjadi objek komedi.

Sebagian besar konten komedi yang diaplikasikan dalam sebuah film dibuat lucu dengan editing, penulisan, naskah, hingga kualitas akting dari setiap aktor. Pesan yang disampaikan terkadang bahkan tidak jauh dari realita yang ada, namun, secara ajaib bisa membuat kita tertawa hanya karena dieksekusi dengan sudut pandangan yang berbeda.

Sepanjang film, mungkin kita akan tertawa, hingga kita mulai membicarakan film tersebut dan menemukan makna yang sebetulnya hendak disampaikan oleh sang filmmaker. Berikut adalah beberapa film terbaik yang mengandung komedi satire yang patut kita tonton.

parasite 2019 cannes review

Parasite (2019) | Neon

Parasite (2019)

Parasite merupakan salah satu contoh dari film komedi satire yang baru saja memenangkan Best Picture Oscar 2020. Seperti yang telah kita ketahui, film yang disutradarai dan ditulis oleh Bong Joon-ho mengangkat isu kesenjangan sosial yang ada di Korea Selatan. Dimana keluarga Kim menjadi representasi dari kaum marjinal dan keluarga Park sebagai keluarga kaya.

Parasite menampilkan keluarga Kim sebagai sekumpulan orang yang oportunis karena hidup dalam kekurangan. Kita tidak dibuat iba dengan miskinnya keluarga Kim, melainkan takjub dengan aksi mereka dan betapa lucunya cara berpikir mereka. Mulai dari mengharapkan makanan ketimbang patung antik, mencari sinyal wifi di kamar mandi, hingga melancar aksi mengelabui keluarga Park dengan berakting.

Dengan sentuhan thriller dan kejutan di sana sini, Parasite merupakan salah satu film original yang berhasil membuka mata kita akan sebuah isu serius dengan cara yang menyenangkan.

Jojo Rabbit Review

Jojo Rabbit | 20th Century Fox

Jojo Rabbit (2019)

Satu lagi film satire komedi terbaru yang dieksekusi dengan brilliant adalah Jojo Rabbit karya Taika Waititi. Filmmaker asal Selandia Baru ini memiliki selera humor satire yang otentik. Jojo Rabbit merupakan film adaptasi novel yang mengajak kita melihat Perang Dunia II dari sudut pandang anak 10 tahun yang mengidolakan Adolf Hitler.

Dengan kemasan komedi yang tampak kekanak-kanakan dan ceria, Jojo Rabbit mengandung realita gelap dari seorang anak muda yang dicuci otaknya di Hitler Youth. Hitler Youth merupakan sebuah kemah anak-anak yang dipersiapkan untuk berperang dan memuja pemimpin Nazi. Jojo, karakter utama dalam film ini juga memiliki teman imajinasi yang sebetulnya merupakan wujud dari doktrin yang ditanamkan dalam otak Jojo.

Ada salah satu adegan lucu yaitu ketika agen Gestapo mengucapkan ‘heil, Hitler’ sebagai salam pembuka pada setiap orang yang mereka temui. Kita akan melihat adegan tersebut sebagai materi humor yang konyol, bahkan materi tersebut bukan materi yang dibuat-buat oleh Taika Waititi, para agen Gestapo memang melakukan salam dengan cara seperti itu dulunya sebagai rasa hormat dan pencitraan kekuasaan Hitler. Bagaimana namanya selevel dengan Tuhan yang sakral.

What We Do In The Shadows (2014)

What We Do In The Shadows (2014)

What We Do In The Shadows (2014)

Percintaan antara vampir dan manusia sempat menjadi bahan imajinasi bagi setiap remaja perempuan saat Twilight diangkat menjadi sebuah film. Dibintangi oleh Kristen Stewart dan Robert Pattinson yang rupawan meski dengan kualitas akting yang payah dalam film tersebut.

Dalam film Twilight, Edward Cullen dan keluarganya digambarkan sebagai sosok vampir yang sempurna. Memiliki hunian mewah di tengah hutan, pulau pribadi, mobil mewah, dan tak lupa kulit yang berkilau jika terkena sinar matahari.

Ketika Twilight menjadi suatu bagian dari budaya pop yang mengagungkan sosok vampir, Taika Waititi mengungkapkan sosok asli dari makhluk penghisap darah melalui sebuah mockumentary What We Do In The Shadows pada tahun 2014. Jauh berbeda dari sosok Edward Cullen yang flawless, tiga vampir dalam film ini ditampilkan dalam wujud para pria tua dengan selera fashion yang kuno dan tinggal di sebuah rumah yang pengap dan kotor. Para vampir juga harus menyapu rumah dan mencuci piring kotor yang terbengkalai selama 5 tahun.

Vampir dalam film ini dibekali berbagai karakteristik yang sesuai dengan legenda dan sejarah, membuat sosok vampir karya Stephenie Meyer tampak palsu dan sebetulnya menggelikan. Oleh karena itu, mockumentary dibuat untuk menyindir sosok vampir yang sempurna, that this is what we are actually in the shadow.

A Serious Man (2009)

Film komedi bermuatan satire berikutnya adalah A Serious Man karya Ethan Coen dan Joel Coen. Bercerita tentang Larry Gopnik, seorang pria Yahudi yang sedang berada pada titik terendah dalam hidupnya.

Film ini akan membuat kita menertawakan kemalangan Larry Gopnik, mulai dari ditinggal oleh sang istri, menghadapi anak-anaknya dan saudara yang tidak tahu diri, hingga masalah pekerjaan dan masalah sepele dengan tetangga. Dengan segala problematika tersebut, Larry tampak kebingungan yang akan membuat kita tertawa karena didukung dengan editing, akting, dan pembawaan dialog yang didesain untuk materi komedi.

Larry diceritakan tak sanggup menghadapi hidup dan memulai “petualangan” untuk menjadi Rabi (pemimpin agama Yahudi) untuk memberikan solusi dalam hidupnya. Larry merupakan seorang Yahudi taat dan memiliki harapan pada kepercayaannya tersebut. Namun, realitanya, para pemimpin agama yang ia temui hanya bisa memberikan solusi klise yang tidak membantu sama sekali.

Film ini menyentuh bagian dari kita yang terkadang mengalami krisis kepercayaan karena kesialan yang bertubi-tubi dalam kehidupan.

Rekomendasi Film Drama Romantis Fantasi

The Lobster (2015)

The Lobster (2013)

Yorgos Lanthimos selalu bisa menciptakan negeri distopia yang merupakan versi hiperbola dari realita yang ada di masyarakat. Salah satu film terbaiknya adalah The Lobster. Melalui film ini, Yorgos menyinggung bagaimana masyarakat kita cenderung mengucilkan atau memandang rendah orang yang hidup tanpa pasangan. Dalam The Lobster, kaum jomblo dikategorikan sebagai penderita penyakit jiwa bahkan selevel dengan hewan jika tidak berhasil menemukan belahan jiwanya.

Aturan tersebut pada akhirnya menciptakan lingkungan sosial yang membuat orang-orangnya hidup berpasangan untuk bertahan hidup, meski dengan kepalsuan dan tidak lagi atas dasar cinta.

Terdengar familiar? Hal ini karena memang ada beberapa orang dalam kehidupan kita yang menikah karena tuntutan sosial. Mulai dari dikejar umur, tuntutan orang tua untuk segera berkeluarga, dan berbagai faktor lainnya yang berhubungan dengan pencitraan. The Lobster mengeksekusi materi tersebut dengan konsep komedi satire yang mengerikan dan dilebih-lebihkan. Layaknya masyarakat kita yang masih suka melebih-lebihkan masalah ketika melihat seseorang belum menikah diatas usia 30-an.

Click to comment

Leave a Comment

Spenser Confidential Review Spenser Confidential Review

Spenser Confidential Review

Film

3 hari untuk selamanya review 3 hari untuk selamanya review

3 Hari Untuk Selamanya: Meratapi Kebebasan Semu

Film

rekomendasi anime terbaik rekomendasi anime terbaik

12 Anime Terpopuler untuk Movie Marathon

Cultura Lists

Rekomendasi Saluran YouTube Ramah Anak Rekomendasi Saluran YouTube Ramah Anak

Rekomendasi Saluran YouTube Ramah Anak

Cultura Lists

Advertisement
Connect