Connect with us
Deadly Illusions Review

Film

Deadly Illusions Review: Halusinasi Seorang Penulis Buku Thriller

Film psychological thriller dengan banyak plot hole dan adegan steamy sebagai gimmick.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Mary Morrison adalah seorang penulis novel sukses, sosok ibu yang ideal, dengan pernikahan yang sempurna. Ketika mendapatkan tawaran melanjutkan sekuel dari novel bergenre thrillernya, Mary menolak dengan keras karena ‘Mary bukan dirinya’ ketika sedang menulis.

Namun, ketika keadaan berada diluar dugaannya, Mary akhirnya mengambil tawaran tersebut dan memanggil pengasuh anak yang muda nan rupawan bernama Grace. Grace menjadi sosok yang sangat sempurna; terlalu sempurna hingga mampu mempengaruhi menuju ilusi yang membingungkan.

“Deadly Illusions” merupakan film drama thriller terbaru di Netflix karya sutradara Anna Elizabeth James. Dibintangi oleh aktris Kristin Davis dan Greer Grammer. Ada ekspektasi tertentu yang muncul ketika kita mengetahui sinopsis dari film ini.

Sebelumnya sudah ada film tentang penulis seperti “Shirley” dan “Black Bear”. “Deadly Illusions” menjanjikan elemen baru yaitu psychological thriller. Mampukah film ini memenuhi ekspektasi kita dengan kisah yang memutar otak sekaligus artistik?

Penokohan Menarik, Namun Eksekusi Akting Tidak Sempurna

“Deadly Illusions” merupakan tipikal film dengan dua karakter utama dengan tugas membawa cerita dari awal hingga akhir, didukung dengan interaksi, perkembangan hubungan, maupun perkembangan penokohan yang menarik untuk membuat penonton terpikat dengan cerita. Mary Morrison memiliki penokohan yang cukup menarik sebagai modal drama psychological thriller.

Statement ‘aku bukan diriku ketika sedang menulis’ tampak digaris bawahi berkali-kali untuk menanamkan ekspektasi tertentu pada karakter ini. Sementara Grace, langsung mencuri perhatian kita sejak frame pertama kemunculannya. Hal tersebut berkat tema make up dan wardrobe Grace yang sangat khas (terutama rambut blonde yang selalu dikepang dengan pita), kemudian berpadu sempurna dengan penokohannya sebagai gadis muda yang manis, cerdas, namun naif.

Sayangnya, kualitas akting kedua aktris ini masih kurang sempurna, beberapa adegan bahkan terasa amatir dan tidak cukup luwes untuk membuat penonton merasa nyaman. Kristin Davis dan Greer Grammer telah diberikan penokohan yang bisa menjadi modal dari hasil akting yang meninggalkan kesan dalam curriculum vitae mereka (bahkan sekalipun film ini tidak memiliki score tinggi). Terutama untuk karakter Grace, ada twist yang membuat Greer harus mampu memberikan akting yang switchy dalam satu adegan, jatuhnya sangat berantakan dan cringe.

Film Psychological Thriller yang Kurang Berorientasi pada Logika

Dengan ekspektasi film bergenre psychological thriller, “Deadly Illusions” tidak memiliki penulisan naskah yang cukup cerdas dalam segi plot. Ada banyak plot hole dan skenario tidak masuk akal yang akan kita lihat. Kondisi Mary yang dijelaskan ada kemungkinan berhalusinasi pun tak mampu membantu eksekusi adegan yang terasa tricky.

Pada akhirnya, perkembangan cerita jadi terlepas dari berbagai atributnya. Pada akhirnya situasi Mary yang sedang menulis novel thriller hanya menjadi alasan Grace untuk masuk dalam kehidupannya.

Kita tidak akan mendapat kisah progres Mary dalam menulis novel, bagaimana kejadian di sekitarnya mempengaruhi tulisannya. Setidaknya ada tiga kemungkinan kemana kisah Mary dan Grace hendak dibawah dalam film ini, namun penulis cerita seakan hendak membuat kita bingung dengan cara paling berantakan. Memberikan banyak kemungkinan seenaknya tanpa latar belakang plot yang detail.

Editing Terasa Murahan, Banyak Adegan Tidak Bermakna dan Gimmick

Secara produksi lokasi syuting dan wardrobe, “Deadly Illusions” memiliki modal untuk tampak lebih elegan dan artistik. Sayangnya, produksi film ini secara visual sangat standard dan murahan. Eksekusi editing dan sinematografi film ini terasa hambar, ada beberapa adegan yang dipilih terasa canggung.

Setidaknya ada 30 menit lebih babak pertengahan film yang dieksploitasi untuk serangkaian adegan dewasa. Meski tidak terlalu vulgar, naskah tampak jelas membawa kita pada konten tersebut. Dari pada dihabiskan untuk adegan-adegan steamy sebagai gimmick, seharusnya bisa digunakan untuk memperkaya cerita dengan latar belakang Grace maupun episode breakdown dari Mary yang selalu berkata bahwa dia memiliki semacam dua kepribadian berbeda.

“Deadly Illusions” memang memiliki beberapa babak yang berhasil membuat kita merasakan suspense dan rasa penasaran. Ada juga plot twist yang cukup mengejutkan mendekati babak terakhir dari kisah Mary dan Grace. Jika kalian tahan dengan kualitas akting yang canggung serta plot lambat yang isinya hanya gimmick, tak ada salahnya juga menonton “Deadly Illusions”.

Click to comment

Girl From Nowhere Girl From Nowhere

Rekomendasi Serial Drama Thriller Remaja di Netflix

Cultura Lists

When I Grow Up Disney Junior When I Grow Up Disney Junior

When I Grow Up: What Do Your Little Ones Want to Be When They Grow Up?

Cultura Lists

Things Heard and Seen Things Heard and Seen

Things Heard & Seen: Percampuran Horror Supranatural dan Drama Rumah Tangga

Film

Jupiter’s Legacy Jupiter’s Legacy

10 Serial Terbaru di Netflix (Mei 2021)

Cultura Lists

Advertisement
Cultura Live Session
Connect