Connect with us
Daft Punk
Daft Punk

Music

Daft Punk: Random Access Memories Album Review

Bukan sekadar album EDM biasa, ‘Random Access Memories’ menjadi masterpiece terakhir Daft Punk.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Keputusan Daft Punk untuk menanggalkan helm dan bubar memang mengejutkan. Walau pada faktanya, duo elektronik dari Prancis ini tidak memiliki rilisan baru selama nyaris 8 tahun terakhir. ‘Random Access Memories’ menjadi masterpiece sekaligus album terakhir dari Daft Punk.

‘Random Access Memories’ merengkuh kesuksesan dari berbagai sisi sejak meluncur di tahun 2013. Album yang memberikan penghargaan pada musik Amerika circa 1970 dan 1980-an ini berkibar di chart, panggung penghargaan, dan bahkan angka penjualan. Tidak itu saja, track demi track untuk ‘Random Access Memories’ juga ramai mewarnai festival, club, sampai radio. Tidak berlebihan bila menyebut ‘Random Access Memories’ merupakan puncak Daft Punk dari segi kesuksesan karir dan musikalitas.

Dirilis sebagai studio album keempat, Thomas Bangalter dan Guy-Manuel de Homem-Christo tidak sekadar mengusung musik EDM. Sebaliknya, album yang menghadirkan sederet musisi, penyanyi, rapper, dan produser ternama tersebut justru menghadirkan sesuatu yang tidak biasa. Di kala itu, perpaduan genre EDM yang dibawa ‘Random Access Memories’ memang masih cukup baru.

Berbeda dengan tiga album studio sebelumnya, Daft Punk juga menyisihkan heavy riff yang menjadi salah satu ciri terkuat genre techno EDM mereka. ‘Random Access Memories’ justru mengedepankan perpaduan EDM dengan soft rock, funk, disco, sampai pop. Percampuan genre-genre yang berseberangan dengan EDM ini yang menjadikan ‘Random Access Memories’ ikonik. Sebuah masterpiece yang memulai tren padu-padan genre dengan sentuhan techno dan EDM.

Daft Punk Random Access Memories

Album dibuka dengan “Give Life Back to Music”, yang masih mengingatkan pada musik-musik rilisan lama dari Daft Punk. Permainan instrumen gitar, sumbangan dari Nile Rodgers, menjadikan lagu ini seolah menjadi bagian soundtrack Top Gun yang digarap oleh Giorgio Moroder. “Give Life Back to Music” sebagai intro pembuka cukup menunjukan kearah mana album ini akan dibawa.

Setelah diajak berpesta pora bersama “Give Life Back to Music”, track berikutnya memasuki fase melankolis. “The Game of Love” memiliki irama jazz, bertempo lambat dengan tetap memiliki sentuhan electro yang khas. “The Game of Love” mengusung tema yang tidak kalah mellow; Mengenai robot yang berusaha untuk menjadi manusia. Cocok dengan filosofi yang diusung oleh duo elektronik ini, bukan?

Daft Punk tidak berlama-lama membiarkan pendengar menikmati alunan perkawinan musik jazz dan electro. “Giorgio by Moroder” kembali mengusung musik yang cocok untuk lantai dance. Genre disco untuk track ini menjadi pengiring untaian narasi tentang perjalanan hidup Giovanni “Giorgio” Moroder. Berbeda dengan rilisan-rilisan lain, “Giorgio by Moroder” lebih terdengar sebagai dokumentari daripada sekedar sebuah lagu.

Track ini menarasikan bagaimana tidak ada batasan untuk seni, tidak ada aturan ketika kita berkarya. Musik yang hadir bersama “Giorgio by Moroder” seolah membuktikan narasi tersebut.

Chilly Gonzales membuka track selanjutnya dengan piano solo yang nyaris sepanjang 1 menit. “Within” kembali hadir sebagai track bertempo lambat, dengan dentingan musik robotic-jazz. Berbeda dengan “The Game of Love” yang memberi kesan lebih dalam berkat vibe melankolis yang dihadirkan, “Within” justru terdengar hanya sekedar sebagai transisi. Kesan mendalam yang ditinggalkan track ini hanya permainan piano solo dari Chilly Gonzales di pembuka track saja.

Benar saja, setelah “Within”, duo Bangalter dan de Homem-Christo kembali menyuguhkan lagu yang tepat diputar di dance floor. “Instant Crush” merupakan kolaborasi apik dengan Julian Casablancas, yang tidak diragukan menjadi nightclub anthem unggulan sejak dirilis. “Lose Yourself To Dance” dan “Get Lucky” menjadi banger collaboration selanjutnya. Kedua track ini digarap bersama Pharrell Williams dan menjadi salah satu hits tersukses Daft Punk. Rodgers yang juga hadir sebagai penulis untuk kedua lagu ini juga menghadirkan sentuhan khas tersendiri.

Diantara kedua track apik tersebut, Paul Williams digandeng untuk membawakan “Touch.” Track epic sepanjang 8 menit ini seolah membawa pendengarnya masuk ke dalam alur cerita dengan efek psychedelic.

Williams juga masih menggubah track selanjutnya, “Beyond” yang kali ini kembali membawa ramuan melankolis dari irama robotic Daft Punk. Aransemen untuk “Beyond” dan “Motherboard” boleh dikatakan yang terbaik di album ini. Sebuah pernyataan yang tentunya “kaya” mengingat nyaris seluruh track di ‘Random Access Memories’ memiliki gubahan aransemen sekelas sebuah masterpiece.

Album ini diakhiri dengan “Contact”, dimana Daft Punk kembali mengusung melodi old-school di era techno musik tahun 70 sampai 80-an. Riff pada track penutup ini sendiri menggunakan sample dari Sherbs yang dirilis pertama kali di tahun 1981. Sehingga tidak heran bila irama old-school sangat kental untuk track ini.

‘Random Access Memories’ hadir tidak sekedar sebagai album EDM. Daft Punk membuktikan musik mereka bukan hanya cocok dimainkan di DJ set di klub maupun rave. Setiap irama dan melodi dari masing-masing track menghadirkan kedalaman makna tersendiri. Mulai dari mengenai pencarian jati diri robot sampai juga bagaimana proses kreatif dalam berkarya.

Hadirnya para kolaborator di ‘Random Access Memories’ juga memberi highlight tersendiri; Tanpa mencuri spotlight dari duo elektronik dari Prancis ini sendiri. Pharrell Williams, Todd Edwards, Panda Bear, Julian Casablancas, Paul Williams menghadirkan sumbangsih bermakna dalam track yang mereka bawakan. Bahkan Paul Jackson, Jr dan Nile Rodgers yang turut serta dalam proses penulisan beberapa track juga menyuntikkan ciri khas mereka sendiri.

Dirilis 8 tahun lalu, ‘Random Access Memories’ seolah membawa EDM kedalam tren berbeda. Sebuah masterpiece yang sepertinya memang akan sulit diungguli oleh rilisan-rilisan lain. A completely well done album.

Click to comment

Demi Lovato Demi Lovato

Demi Lovato: Dancing with the Devil… The Art of Starting Over

Music

Blxst Blxst

BLXST feat. Ty Dolla $ign & Tyga: Chosen Single Review

Music

Kang Daniel Kang Daniel

Kang Daniel: Antidote Single Review

Music

Dave Grohl, Mick Jagger Dave Grohl, Mick Jagger

Mick Jagger with Dave Grohl: Eazy Sleazy Single Review

Music

Advertisement
Cultura Live Session
Connect