Connect with us

Pekan Tayang SPTV

Collectour Chapter 2: Melihat Lebih Dekat Geliat Kolektif di Dataran Pulau Sumatera

Menampilkan geliat musisi dari Haru Bisu, Lajur, Road Roots, Saputangan Merah, DJ Alfaith, Orkes Taman Bunga, Sabi Band, dan Samsara

Geliat pergerakan musisi dari tiap daerah yang tersebar di Indonesia sangat penting untuk dikabarkan. Melalui program radar dari Siasat Partikelir bernama “Collectour” mencoba merangkum gelombang pergerakan dan menjaring potensi-potensi yang ada. 

Dalam Collectour Chapter 2 kali ini SPTV masih mengangkat musisi atau grup musik dengan talenta unggulan yang berasal dari utara Sumatera, antara lain: HARUBISU, LAJUR, ROAD ROOTS, SAPU TANGAN MERAH, ALFAITH, ORKES TAMAN BUNGA, SABI, dan SAMSARA. 

Harubisu

Untuk nama pertama ada Harubisu yang merupakan unit Post-Rock/Nu Gaze/Dream-Pop yang berasal dari Kota Pekanbaru dan terbentuk pada bulan Januari 2018 silam. Band yang beranggotakan Satria Putra Fajar (vokal utama, gitar), Supernoval (gitar, vokal latar), Ricky ‘Coki’ Kurniawan (drum, vokal latar) dan M. Hadi Fadhillah (bass) ini terus melaju mendobrak segala keteratasan yang ada dengan melahirkan karya-karya yang luar biasa. 

Tercatat, pada tahun dimana band ini terbentuk, Harubisu sudah merilis debut mini albumnya yang bertajuk “Gelap yang Terang” yang rilis pada November 2018. Setidaknya ada 4 trek lagu yang tercantum dalam album ini, seperti: Pusaka, Semenjana, Tuli Membisu, dan Terkafir. 

Lajur

Berlanjut ke Kota Padang, ternyata kota ini tak hanya dikenal dengan citra rasa kulinernya yang khas, tapi juga cita rasa musiknya yang kaya. Dari dulu salah satu kota terbesar yang ada di pulau Sumatera ini memiliki sejarah musikal yang lekat. Saatini, banyak band-band pendatang baru muncul dari kota ini. Salah satunya adalah Lajur, sebuah kelompok musik yang didirikan oleh Mhd Causadibhi, Fajar Rizki, dan Heza Putra. 

Lajur sendiri merupakan proyek persahabatan dari Padang, Indonesia, yang dibentuk pada tahun 2015. Para personil sendiri mulanya dipertemukan di sebuah kampus yang ada di Padang, ketika semua personil kuliah di kampus tersebut. 

Sapu Tangan Merah

Tak hanya Lajur, kota Padang pun masih punya talenta yang lain. Mereka adalah Sapu Tangan Merah, salah satu kelompok musik yang mengusung genre yang cukup unik. Band independen asal kota Padang ini mengusung genre Dramatic-folk. Band ini bermula dari pertemanan dalam sebuah kampus, yakni Ade  Syukri (brass), Nanda Hidayat (cello), Angga Putra pada (gitar), dan Selvi Pratiwi pada (vokal). 

Seperti halnya kebanyakan musisi, Saputangan Merah pun memiliki corak warna berdasarkan musisi atau band yang mempengaruhinya. Sebelum terbentuk, para personil Saputangan Merah kerap dipengaruhi oleh Russian Red, Camera Obscura, King Of Konvenience, My Bubba And Mi, White Shoes And The Couples Company. 

Dari sisi karya, saat ini mereka sudah memiliki karyanya sendiri yang diberi judul ‘Anomali Ingatan’ dan ‘Pesona’ yang sudah bisa dinikmati di berbagai kanal pemutar musik digital kesayangan kita. Kabarnya, kini mereka juga sedang dalam proses penggarapan mini album ‘Anomali Ingatan’. Sedikit bocoran, mini  album ini nantinya akan berisikan lima lagu karya mereka sendiri. 

Road Roots

Menyeberang ke kota Batam, tak kalah seru. Menjadi kota terbesar di Kepulauan Riau, Batam ternyata  menyimpan banyak keunikan di dalamnya. Tak hanya dari sisi industrinya yang maju pesat, tapi dari sisi kreativitasnya pun kota Batam sudah tentu tak diragukan lagi. Banyak musisi yang bermunculan, salah satunya adalah Road Roots. Unit musik yang diisi oleh Bayu Bagus (vokal), Faldo Reynaldo (vokal),  Erio Hutomo (gitar), Alifardo (bass), Raja Rian (keyboard), Bagus (drum), dan additional player Yogi (saxophone). 

Dari sisi musikalitas, Road Roots memiliki keunikannya sendiri. Mereka menghadirkan warna musik Pop, R&B, hingga Jazz ke dalam karya-karyanya. Dari sisi prestasi, Road Roots juga sudah cukup mumpuni. Road Roots sempat mengikuti ajang festival band nasional dan menempati posisi pertama di regional Bali dan 4 besar di babak Final yang diadakan di Surabaya pada tahun 2018 silam, juga sudah merilis beberapa karya yang tentu sudah bisa kita dengarkan diberbagai kanal pemutar musik digital. 

DJ Alfaith

Kota selanjutnya adalah Kota Dumai yang ternyata menyimpan cerita menarik. Ragam musisi dengan genrenya masing-masing silih berganti dan bergenerasi di kota ini. Salah satu musisi muda yang  kini banyak mencuri perhatian para pendengar musik adalah Alfaith. 

Alfaith adalah seniman musik EDM (elektronik dance music) yang berasal dari kota Dumai, Provinsi Riau. Alfaith terbentuk pada 20 Desember 2017. Alfaith sendiri merupakan moniker dari Haviz Alfatih. ia memainkan musik EDM dengan perangkat seperti launchad, DDJ, synthesizer, dan keyboard. 

Dari sisi karya, kini Alfaith Mempunyai 9 lagu orosinil, diantaranya: “Pilihan Hidup”, “Negeri Awan”, “Solusi Rindu”, “Salah Siapa”, “Bla Bla Bla”, “Jaga Jodoh Oang”, “#Dirumahaja”, “Kagum”, dan “Destiny”. Semua single Alfaith sudah bisa dinikmati di pelbagai platform pemutar musik digital. 

Orkes Taman Bunga

Tak berhenti di kota Dumai, kita berlanjut ke Padang Panjang, Sumatera Barat. Di sini lahir sebuah kelompok bernama Orkes Taman Bunga yang bermula dari pertemuannya di kampus yang sama. Orkes Taman Bunga yang sudah berdiri sejak tahun 2012 ini tumbuh dan besar tak jauh dari lingkungan salah satu kampus seni di sana.

Kelompok ini memiliki entitas musik yang unik. Bagaimana tidak, kelompok yang diisi banyak personil dengan instrumennya masing-masing ini mampu meleburkan musik populer  dengan musik-musik tradisional. Peleburan musik ini dijadikannya sebagai bentuk apresiasi untuk beragam tradisi musik di Sumatera. Hal tersebut didukung pula dengan para personilnya yang berasal  dari beragam wilayah etnis Sumatera yang turut memperkaya pengalaman musikal Orkes Taman Bunga. 

Dari sisi karya, setidaknya Orkes Taman Bunga sudah memiliki dua album penuh: Kita-Kita (2016) dan Bhineka Rasa (2020). Kedua album tersebut dirilis dan diproduksi secara mandiri oleh Orkes Taman Bunga di bawah label Taman Bunga Family. 

Di dalam karya-karyanya kita bisa merasakan bagaimana eksplorasi yang dilakukan oleh kelompok yang banyak mendapat pengaruh dari PMR, PSP, Orkes Gumarang, dan Orkes Kumbang Tjari ini. Coba kita simak album kedua mereka Bhineka Rasa (2020). Dalam album tersebut Orkes Taman Bunga  menghadirkan musik yang dapat merepresentasikan kelompoknya. 

SABI

Kemudian SABI, kelompok musik asal Kota Pekanbaru, terus melaju memantapkan musiknya. Mulanya SABI berasal dari tiap personil yang mengusung genre musik yang berbeda-beda. Namun, justru  persaingan di acara-acara kompetisi lokal antar aliran ini membuat mereka bertemu dan saling kenal.  Didasari oleh keinginan untuk meningkatkan kemampuan musikalitas yang lebih baik, akhirnya SABI  terbentuk pada 10 Desember 2011. 

Pertengahan 2013 menjadi permulaan masa aktif SABI yang baru hingga sekarang, setelah sebelumnya aktif mengikuti dan menjuarai beberapa kompetisi band akustik lokal. Dari seluruh kompetisi yang pernah SABI ikuti, sebagian besarnya harus membawakan lagu ciptaan sendiri, inilah awal mula SABI  menemukan identitas bermusiknya. Dengan beranggotakan Berto (vocalist), Kevin (guitarist), Ryan (bassist), Wawan (drummer), dan Riski (synthesizer), SABI memiliki tekad dan keinginan yang kuat agar berhasil membangun sebuah citra yang baru dari hasil orientasi bersama antar personil selama  bertahun-tahun. 

Samsara

Yang terakhir, masih dari kota Pekanbaru yang selalu menyimpan cerita baru. Ragam keseruan silih berganti hadir dan berlangsung di salah satu kota terbesar di pulau Sumatera ini. Salah satu yang mengahangatkannya adalah Samsara, unit indie pop yang sudah terbentuk sejak tahun 2015 di Pekanbaru. 

Samsara sendiri diisi oleh tiga personil yakni, Lia (vokal dan synth), Elot (drum), dan Topik (gitar). Dua tahun berselang dari pembentukan, Samsara berhasil berhasil melahirkan debut albumnya yang diberi tajuk ‘Album Pertama’ yang rilis pada 2017 lalu. Di ‘Album Pertama’, setidaknya ada 8 materi lagu yang  dikemas dengan nuansa pop 90’s ala Camera Obscura, Belle & Sebastian, dan She & Him.

Seluruh lagu ditulis oleh Elot (drum) dan diaransmen bersama di Samsara, di antara 8 lagu tersebut terdapat 60% lagu berbahasa inggris dan sisanya berisi lirik dalam bahasa Indonesia. Album perdananya sendiri dirilis oleh label lokal Cuma-Cuma Records dalam bentuk CD dan telah didistribusikan hampir di seluruh kota-kota besar di Indonesia. Berbicara tentang Cuma-Cuma Record, record label yang berbasis di Pekanbaru ini sejatinya milik sang drummer, Elot. 

Samsara dan Elot memang bisa dibilang menjadi salah satu gerbong yang menyulut semangat di Pekanbaru. Elot menjadikan record label-nya sebagai wadah bagi band-band lokal Pekanbaru untuk  produksi dan distribusi karya. 

Bagaimana keseruan band-band yang sudah disebutkan di atas? Biar tidak penasaran langsung saja simak video berikut.

Adele Easy On Me Adele Easy On Me

Adele: Easy On Me Single Review

Music

Sore Sore

Sore dan Pengalaman Panggung Kesukaannya

Music

The Last Shadow Puppets The Last Shadow Puppets

Best Songs of The Last Shadow Puppets

Cultura Lists

Best Songs of Babymetal Best Songs of Babymetal

Best Songs of Babymetal

Cultura Lists

Advertisement
https://www.cultura.id?_dnembed=true
Connect