Connect with us

Pekan Tayang SPTV

Collectour Chapter 1: Merangkum Semangat Kolektif di Dataran Pulau Sumatera

Menampilkan geliat musisi dari Dangerdope, Hexa, Jere Fundamental, Lensa, Pahit Lidah, Siantar Rap Foundation, dan Zona Hijau

Geliat pergerakan musisi dari tiap daerah yang tersebar di Indonesia sangat penting untuk dikabarkan. Melalui program radar dari Siasat Partikelir bernama Collectour mencoba untuk merangkum gelombang pergerakan dan menjaring potensi-potensi yang ada. 

Dalam Collectour Chapter 1 mengangkat musisi atau grup musik dengan talenta mumpuni dari Sumatera bagian utara, antara lain: HEXA, JERE FUNDAMENTAL, LENSA, PAHIT LIDAH, DANGERDOPE, SIANTAR RAP FOUNDATION, dan ZONA HIJAU. 

Hexa

Hexa adalah band asal kota Binjai yang solid diisi oleh lima sekawan Roby (Vocal), Ozzy (Bass), Ridho (Gitar), Indra (Gitar) dan Rian (Drum) yang mengusung musik pop alternative dan sudah terbentuk sejak 2016. Untuk urusan karya, Hexa pun terbilang produktif dalam merilis lagu. Sampai saat ini Hexa tercatat  memiliki 1 mini album bertajuk “Titik Terang” dan 4 single lainnya yang sudah bisa didengar diberbagai kanal pemutar musik digital.

Berbicara “Titik Terang”, album yang dirilis tahun 2019 itu adalah bentuk pernyataan Hexa atas cibiran orang lain yang kerap bilang bahwa band pop biasanya  hanya mendaur ulang lagu orang lain. 

Geliat musik di kota Binjai sendiri kini kian berkembang. Salah satu buktinya di Binjai banyak band bermunculan dan mengusung genre yang beragam. Tak hanya muncul sebagai band saja, lebih jauh band-band itu rata-rata sudah merilis album. 

“Skena musik di Binjai sih sekarang udah banyak berkembang karena udah banyak band-band Binjai yang pada rilis album dan banyak juga band-band dengan genre-genre baru yang bermunculan” jelas  Robi, salah satu personil Hexa. 

Jere Fundamental

Bertetanggaan dengan kota Binjai, ada juga musisi bernama Jeremiah Saragih alias Jere Fundamental, seorang rapper asal kota Medan. Mulai terjun di skena musik kota Medan sejak tahun 2004, kematangan Jere Fundamental barangkali bisa kita lihat dari materi album mininya yang bertajuk “Bar Bar” yang dirilis beberapa tahun silam, tepatnya awal tahun 2018. 

EP album ‘Bar Bar’ sendiri bercerita tentang isu sosial yang terjadi di lingkungan kota yang dia tempati. Bagaimana dinamika politik dan lingkungan yang cukup bervariatif menjadi inspirasi terbesar pada penggarapan album ini. Perspektif yang diambil terlihat dari beberapa dampak yang didengar, dilihat dan dirasa secara utuh pada lingkungan dan atmosfer kotanya. 

“Album ‘Bar Bar’ lebih banyak bercerita tentang situasi dan kondisi pada tahun rilisnya album tersebut, dan juga ke perspektif personal terhadap lingkungan sekitarku yang pada saat itu sangat bergejolak terhadap delusi yang masif” ungkap Jere Fundamental. 

Dalam kondisi yang belum membaik seperti saat ini, Jere juga bercerita tentang tantangannya bersama kawan-kawan sesama musisi di pulau Sumatera hari ini untuk tetap produktif dalam berkarya. 

“Tantangannya bagaimana bisa tetap bertahan untuk tetap produktif di era pandemi dan bertahan untuk memproduksi karya-karya bagus serta menjaga kewarasan di situasi yang kurang berpihak” pungkas Jere.

Lensa

Bergeser ke kota Kisaran, ada sebuah band yang cukup menarik perhatian bernama Lensa. Lensa sendiri  band yang berasal dari kota Kisaran yang sudah terbentuk sejak tahun 2015. Band yang bermula dari keisengan untuk dijadikan sebuah project mengikuti event festival musik ini, di luar dugaan Lensa malah berhasil menjadi juara 1. Karena kecocokan dan selera musik yang sama akhirnya project ini berlanjut hingga sekarang dan berhasil merilis beberapa karya orisinal. Hingga saat ini Lensa masih solid diisi oleh Oddy (vocal), Hadi (gitar), Mazer (bass), Andi (keyboard), Galang (drum). 

Pahit Lidah

Berlanjut ke band selanjutnya, Pahit Lidah. Bukan lagi mitos, bahwasanya tempat kopi telah berhasil menghubungkan banyak hal. Mulai dari pertukaran ide, ngobrol kehidupan, bertemu teman baru, sampai dengan obrolan musik. Seperti halnya yang dilakukan oleh Pahit Lidah, trio yang diisi oleh Badok (vokalis), Novi (gitar), Darus (drum) yang memutuskan untuk membuat band dari seringnya mereka nongkrong bareng di tempat kopi yang sama.

Mereka datang dari Lhokseumawe, Sumatera Utara, Pahit Lidah kian melaju dengan musiknya. Meskipun terbilang sebagai band pendatang baru, dan berada di tengah situasi yang belum membaik, Pahit Lidah tak patah arang. Mereka terus produktif dalam menciptakan karya. Meskipun mulanya setiap personil datang dari kegemaran genre musik yang berbeda namun akhirnya Pahit Lidah bisa guyub satu frekuensi dalam satu genre musik yang sama. 

Dangerdope

Kemudian bergeser ke paling utara, Aceh. Salah satu kota dengan geliat kreativitas yang cukup seru untuk terus diikuti. Salah satu pelakunya, adalah musisi bernama Muhamad Zaki alias Dangerdope, penduduk asli Aceh. Dangerdope adalah proyek DJ Rencong, Proyek ini sendiri sudah dimulai sejak tahun 2005. Dangerdope merupakan proyek musik hip-hop, instrumental, soul, funk, jazz dan drum dan bass jugle yang digabungkan dengan suara dari film, talk show, percakapan, Vynil tua dan banyak hal lainnya ke dalam musik yang dia sebut sebagai kolase suara. 

Terjunnya Dangerdope ke ranah musik DJ sudah cukup lama. Ia memulai karirnya pada tahun 2001 sebagai DJ untuk band hip-hop bernama Angkatan Udara dan sekarang dia adalah anggota Dynomonk, kolaborasi musik antara Dangerdope dan Jedimonk, mereka tampil live dengan Akai MPC 1000 sejak 2007. 

Selain aktif bermusik, Dangerdope terus berupaya menghadirkan hiburan melalui kanal bernama Undertown. Salah satunya yang sering diadakannya di Motown, yaitu gigs kecil-kecilan guna menghidupi banyak karya yang terpendam dari para musisi. 

Siantar Rap Foundation

Masih beririsan dengan musik hip-hop, di dataran pulau Sumatra kita juga bakal menjumpai Siantar Rap Foundation. Siantar Rap Foundation (SRF) adalah sebuah grup rap yang berasal dari kota Pematangsiantar, Sumatera Utara. SRF sendiri mulanya dibentuk oleh Awenz pada 16 Agustus 2013.  Seiring waktu berjalan SRF pun kian berkembang dan terus melaju untuk menciptakan karya musik yang tak bisa dipandang sebelah mata. 

Grup yang diisi oleh Alfred Klinton Manurung (Rapper), Petrus Simarmata (Singer-Rapper), Alfred  Reynaldo Sitanggang (Rapper), dan Arwin ‘Awenz’ Manurung (Turntablist) ini setidaknya sudah memiliki 6 album penuh: Batak Swag Ethnic (2014), Tobanese (2015), Sada Dua Tolu (2016), Buah Roh (2016), Indonesia Bisa (2020), Raptradisi (2021). 

Zona Hijau

Nama terakhir adalah Zona Hijau, kelompok musik asal Serdang Bedagai, yang terbentuk pada April 2019 ini terus melaju melanjutkan perjalanannya. Diisi oleh Dolly (gitar), Suriyawan (bass), Ozi (Saxophone), Dhika (drum), Novri (djimbe) dan Madan (vokal) mereka terus berupaya untuk meretas jalan dengan musik yang mereka usung. Mengusung musik dalam genre Reggae, Zona Hijau setidaknya sudah memilki karya orisinal yang diberi judul “Senja Semalam.” Lagu yang terispirasi dari panorama senja ini dirilis sekitar tahun 2020 kemarin. 

Nama-nama tadi hanyalah sedikit dari begitu banyaknya band beserta pergerakannya di pulau Sumatera. Program Collectour yang dihadirkan oleh Siasat Partikelir serta melalui kanal SPTV ini akan mengabarkan lebih banyaj lagi.

Adele Easy On Me Adele Easy On Me

Adele: Easy On Me Single Review

Music

Sore Sore

Sore dan Pengalaman Panggung Kesukaannya

Music

The Last Shadow Puppets The Last Shadow Puppets

Best Songs of The Last Shadow Puppets

Cultura Lists

Best Songs of Babymetal Best Songs of Babymetal

Best Songs of Babymetal

Cultura Lists

Advertisement
https://www.cultura.id?_dnembed=true
Connect