Connect with us
Bioskop Sudah Dibuka, Namun Semua Telah Berubah
Getty Images

Current Issue

Bioskop Sudah Dibuka, Namun Semua Telah Berubah

Euforia menonton di bioskop menurun, keragaman film terancam menurun.

Memasuki tahun 2021 kemarin, bioskop di Indonesia akhirnya telah kembali beroperasi. Tentunya dengan peraturan yang mengindahkan protokol kesehatan di tengah pandemi yang belum usai.

Lebih dari sekadar fasilitas hiburan bagi masyarakat umum, ada banyak orang bergantung pada industri bioskop untuk menyambung hidup. Mulai dari pemilik maupun staff di bioskop, hingga para pekerja seni serta rumah produksi di industri film. Oleh karena itu, pembukaan bioskop esensial untuk menjaga keberlanjutan industri kreatif film di seluruh penjuru dunia.

Industri bioskop adalah industri yang menjual pengalaman pada konsumennya. Kita tidak membawa pulang apapun dari bioskop kecuali kenangan. Baik maupun buruk, keduanya akan memengaruhi pengalaman ketika kita mengalami film kedepannya. Sayangnya, filosofi tersebut mulai tergerus zaman dengan munculnya pandemi, diikuti trend platform streaming yang membuat film bisa di-pause, diputar ulang kapan pun kita mau, bisa ditonton di manapun. Keajaiban film akhirnya pudar tanpa layar lebar.

Di masa yang sulit ini, mungkin nilai estetika dan orisinalitas merupakan hal yang terlalu mewah untuk diwujudkan. Semua pihak hanya berusaha sebaik mungkin untuk tetap mendapatkan keuntungan dengan menjual film yang mudah laris.

Buat Apa ke Bioskop Kalau Bisa Di-Streaming

Platform streaming memang tidak lahir dalam masa pandemi, namun tercipta dengan sempurna untuk masa ini. Ketika sebuah film pesimis dengan usaha rilis di bioskop, rilis film di platform streaming sudah menjadi rencana cadangan yang biasa bagi sebuah rumah produksi. Dimana ketika sebuah film memutuskan untuk rilis secara bersamaan di bioskop dan platform streaming, bisa dijamin bahwa film tersebut tak akan memiliki kesempatan meraup keuntungan besar di box office.

Bagi mereka yang tetap idealis dan tetap berambisi untuk merilis film secara perdana di bioskop, tak banyak harus menerima kenyataan bahwa film-film tersebut akan mengalami flop. Pada akhirnya dijual juga ke platform streaming. Skenario ini terlihat lebih menyedihkan.

The Last Duel

20th Century Studios

Contohnya saja film dari Ridley Scott, “The Last Duel”, bisa dikategorikan sebagai ‘the biggest flopped of 2021’. Bukan karena kualitas filmnya, namun karena betapa bagusnya film ini namun sangat disayangkan tidak meraup keuntungan besar di box office. Film kolosal berlatar medieval ini diproduksi dengan budget 100 juta USD, namun hanya memperoleh keuntungan box office sebanyak 30.6 juta USD saja! Akhirnya, “The Last Duel” kini hanya menjadi salah satu judul dalam katalog Disney+.

Related: 10 Film Terbaik 2021 yang Flopped di Box Office

Masih banyak lagi film seperti “West Side Story” hingga “King Richard”, yang rilis bersamaan di HBO Max, sesuai dengan pemberitaan tahun lalu dimana Warner Bros. menjual semua filmnya ke platform streaming tersebut pada 2021.

Keterbatasan Distribusi Film ke Bioskop Lokal, Berpihak pada Niche Tertentu

Tak semuanya mengalami kerugian, masih ada genre atau niche film yang masih bisa bertahan di tengah pembatasan kegiatan bioskop lokal. Setidaknya ada dua niche film yang tetap laris manis selama masa pandemi; film superhero dari Marvel Studio dan live action remake Disney. Kedua studio film ini telah mendominasi box office bahkan sebelum masa pandemi dan masih bisa bertahan ketika bioskop kembali dibuka.

Meski kini kita sudah memiliki kebebasan untuk pergi ke bioskop, euforia menonton layar lebar sudah tidak sama lagi. Ada banyak keterbatasan yang membuat kita tidak bisa leluasa di bioskop sebagai momen rekreasi. Mulai dari pembatasan persentase penonton, jadwal menonton, hingga keragaman judul yang tersedia. Sebagian besar judul yang tersedia sekarang hanya terbatas di film Indonesia, film superhero, dan animasi populer.

Keterbatasan slot yang disediakan oleh bioskop membuat bioskop hanya menghadirkan judul yang sudah pasti menjual banyak tiket. Film seperti “Spencer”, “C’mon C’mon”, dan judul-judul independent lainnya sangat sedikit peluangnya untuk bisa temukan di bioskop semenjak pandemi.

spider man no way home review

Photo: Matt Kennedy/Sony Pictures

Satu fenomena yang menunjukan keberpihakan penonton pada salah satu niche adalah perilisan “Nightmare Alley” dari Guillermo del Toro dalam minggu yang sama dengan perilisan “Spider-Man: No Way Home”.

Karena keterbatasan untuk terpapar di ruang publik, tak banyak dari kita akhirnya akan berpikir berkali-kali sebelum memutuskan untuk pergi ke bioskop. Diantara dua film tersebut, jelas orang akan lebih rela menonton franchise besar yang sudah terjamin keseruannya, dibandingkan bertaruh membeli tiket untuk judul original yang tidak kita ketahui kualitasnya.

Tanpa Dukungan Penonton, Film dengan Niche Tertentu akan Punah

Setelah memahami bagaimana cara kerja bioskop memprioritaskan niche film tertentu, didukung dengan analisis minat pasar, bisa kita lihat ada niche atau genre film yang terancam punah. Karena respon yang diberikan oleh bioskop dan penonton akan memengaruhi cara rumah produksi menyeleksi naskah dari seorang penulis dan sutradara kedepannya.

Produser film bisa saja tidak akan tertarik lagi dengan proyek original seperti “Inception”, atau film kolosal megah seperti “Gladiator” yang memakan budget hingga ratusan juta USD, hanya untuk flop di bioskop. Dan siapa juga yang mau membuat film dengan konsep dan budget besar hanya untuk rilis di platform streaming? Mengeksekusi film dengan naskah orisinal bisa diibaratkan seperti gambling dalam masa yang sulit di industri perfilman saat ini.

Ketika seorang penulis atau sutradara mulai mengalami dampak dalam keterbatasan yang membatasi kreativitas mereka, tak menutup kemungkinan para filmmaker juga akan menyerah pada minat pasar; yaitu materi adaptasi dari budaya pop populer, remake, live action remake, dan film-film superhero. Karena pada akhirnya semua orang yang terlibat dalam sebuah industri juga butuh pemasukan untuk menyambung hidup.

Bukan berarti film dari niche-niche mainstream tersebut tidak berkualitas, namun tidakkah kita terkadang menginginkan film-film orisinal juga? Jika keadaan tidak berubah, kemungkinan besar skenario ini yang akan menjadi masa depan perfilman dunia. Dimana penonton umum hanya ingin terhibur, sementara bioskop hanya ingin memperoleh keuntungan.

Tak ada ruang untuk eksplorasi kreativitas dan sesuatu yang baru. Hal tersebut juga bukan salah pihak manapun, namun sudah menjadi hal tak terhindarkan bagi industri film yang sedang bertahan di tengah masa pandemi.

berlin money heist spinoff berlin money heist spinoff

Money Heist Spin-off: Serial Baru ‘Berlin’ Memulai Tahap Produksi

Entertainment

Apakah James Bond Harus Selalu Kulit Putih?

Culture

Kilas Balik Trilogi Baru Star Wars: Kehancuran Sebuah Franchise

Entertainment

Indonesia Kita Tampilkan Perempuan-Perempuan Pilihan dalam Format Ludruk

Stage

Connect