Connect with us
Kopi Toraja
Photos: Felisitasya Manukbua/Cultura

Culture

Asal-usul Popularitas Kopi Toraja Milik Nusantara

Perebutan, sistem monopoli, penjajahan hingga keunikan cita rasa kopinya membawa kepopularitasan kopi Toraja.

Tondok lepongan bulan, tana matari allo merupakan sebutan terkenal wilayah Toraja di pulau Sulawesi bagian selatan. Selain kekayaan adat serta kebudayaannya yang terkenal, ternyata Toraja juga menjadi salah satu penghasil kopi terbesar di Indonesia. Dengan wilayah pemukiman pegunungan tinggi, Toraja masuk dalam syarat wilayah tumbuh subur untuk budidaya kopi di Indonesia, terutama pada kopi jenis arabikanya.

Selain kecocokan daerah tanamnya, kopi Toraja juga semakin dikenal karena varietas typica sebagai varietas kopi peninggalan leluhur. Typica adalah jenis biji yang berasal dari tanaman asli milik Afrika dan varietas pertama yang dianggap menjadi bagian kekayaan kopi milik Toraja. Sebelumnya, varietas ini adalah tanaman sensitif yang memiliki cara tanam yang tidak biasa untuk ditanam. Namun, wilayah Toraja memiliki iklim yang sesuai sehingga jenis Typica memiliki kecocokan dan subur untuk ditanam di wilayahnya.

Proses pemilahan biji kopi Toraja yang baik untuk diroasting

Proses pemilahan biji kopi yang baik untuk diroasting

Popularitas Kopi Toraja

Awal mula kopi toraja dikenal ada pada abad ke-17, perdagangan kopi menjadi tonggak utama dalam menyelamatkan perekonomian di Sulawesi Selatan, hingga menjadi daya tarik pedagang Luwu, Bone, Sidenreng dan Sawito.

Daya tarik ini membawa perkebunan kopi Toraja semakin luas dan semakin terkenal, meningkatnya daya tarik membuat perang monopoli pada pertengahan abad ke-18 antara pedagang Sidenreng dan Sawitto.

Setelah terjadinya perebutan, kondisi perkebunan kopi justru membawa peningkatan terhadap jumlah peminat kopi dari tahun ke tahun. Terlihat dari peningkatan kopi Toraja yang sebelumnya hanya diekspor melalui pasar Eropa dan Jawa, kini mulai bertambah pasarannya di negara luar yaitu Amerika dan Singapura. Sejak tahun 1860, hasil dari komoditi kopi mempunyai peran yang signifikan dalam perdagangan di wilayah internasional.

Pasang Surut Perdagangan Kopi Toraja

Seiring berjalannya waktu, perdagangan kopi tidak dapat dinikmati lagi oleh masyarakat Toraja karena adanya penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang yang mengeluarkan kebijakan untuk kepentingan mereka tanpa kebutuhan masyarakat asli Toraja sendiri.

Kebijakan ini membuat perkebunan kopi mengalami pasang surut dalam segi produksinya, ditambah lagi dengan adanya musibah serangan penyakit hama tanaman pada saat itu. Namun, adanya musibah tersebut ternyata para petani masih bisa mencari solusi lain untuk tetap bertahan hidup. Cara yang dilakukannya dengan menghadirkan varietas kopi baru yaitu robusta.

Robusta adalah kopi yang dibawa oleh Belanda sehingga robusta kerap dikenal dengan nama ‘Kopi Belanda’ oleh sebutan masyarakat Toraja. Sampai sekarang kehadiran robusta menjadi daya tarik bagi masyarakatnya untuk bertahan hidup, tidak heran apabila dalam pesta upacara adatnya seperti Rambu Solo’ atau Rambu Tuka, bahkan saat berkunjung ke rumah, masyarakat Toraja selalu menyeduhkan kopi robusta untuk menjadi jamuan para tamunya. Selain itu, ketenaran kopi Toraja juga semakin terkenal karena kenikmatannya yang telah berhasil menembus pasar internasional.

Bubuk robusta kopi Toraja

Bubuk robusta kopi Toraja

Seiring berjalannya waktu, kondisi perkebunan kopi Toraja sering mengalami penurunan pasca kemerdekaan terutama pada masa DI/TII. Perdagangan kopi mulai terhambat terutama dari akses keluar untuk menjual hasil kopi. Para gerombolan DI/TII kerap melakukan aktivitas pengrusakan jalan, jembatan serta penebangan pohon, bahkan penghadangan jalan kerap terjadi. Namun, setelah masa ini akhirnya masyarakat Toraja mulai untuk kembali bertahap memperbaiki dan mengembangkan perkebunan kopi.

Suleman Miting yang saat ini menjadi pemilik kedai kopi Kaa Toraja Coffee di wilayah Toraja Utara. Memulai usahanya pada 2014 dengan dorongan untuk bertanggung jawab lebih mendorong para petani Toraja yang pada saat itu meninggalkan kebun untuk kembali lagi bertani kopi. “Orang Toraja senang dengan kebudayaannya, bagaimana mereka mau lihat dari segi perkopian? Pola pikir inilah yang seharusnya dibawa dan dikembangkan agar bisa lebih terkenal untuk kampung sendiri,” ucap Suleman Miting.

Mirisnya kondisi petani yang mulai pudar saat itu juga ada karena tata cara pembagian upah tidak merata yang masih belum pudar di masa penjajahan. Lewat permasalahan ini, Suleman memiliki rasa tanggung jawab dan dorongan untuk mengangkat lapangan kerja baru bagi para petani kopi sekaligus mengajak para petani agar memperoleh hasil yang lebih baik dengan menjualkan harga kopinya dua kali dibanding harga sebelumnya.

Cara ini juga membantu para petani untuk pandai membagi hasilnya untuk keperluan kehidupan dan menyisihkan untuk dijualkan hasil kopi dari kebun secara mandiri di pasar. Peningkatan tingkat harga ini pun membawa pengaruh yang lebih baik kepada para petani kopi di Toraja.

Sejarah kopi Toraja

Popularitas Kopi Toraja hingga ke Mancanegara

Hingga saat ini, popularitas dari kopi Toraja tidak hanya dikenal di nusantara namun juga terus menembus hingga ke mancanegara. Popularitas tidak hanya dari sejarah masa lalu melainkan cita rasanya yang unik serta jenis-jenis kopinya yang banyak dibandingkan dengan kopi lainnya.

Keunikan dari tekstur kopi terutama dari bijinya yang kecil dan mengkilap licin pada kulitnya ditambah lagi dengan jenis-jenis perpaduan rasanya mulai dari rasa dark chocolate, caramel, dan earthy hingga pada bright acidity seperti apel hijau, grapefruit atau strawberry.

Kopi Toraja saat ini memiliki berbagai macam jenis, mulai dari Toraja Awan, Pulu-pulu, Sapan, Bittuang dan lain-lain. Perbedaan ini ada pada karakter kopinya dan juga melalui tingkat wilayah tumbuhnya berdasarkan dengan ketinggian tanam yang berbeda-beda, namun tidak menutup kemungkinan bagi penikmat kopi untuk menyesuaikan cita rasa jenisnya pada selera pribadi masing-masing.

Saat ini, para petani kopi Toraja masih terus mengembangkan dan membudidayakan kopi Toraja, bagi para penikmat kopi yang ingin mencicipi kopi Toraja, sekarang bisa dibeli secara online melalui distributor atau toko online kopi asal Toraja yang melayani pengiriman langsung dari daerah ke daerah di sekitar Indonesia, bahkan hingga mancanegara.

Click to comment

Masa Keemasan Hollywood: ‘Blessing in Disguise’ Pasca Depresi Ekonomi Masa Keemasan Hollywood: ‘Blessing in Disguise’ Pasca Depresi Ekonomi

Masa Keemasan Hollywood: ‘Blessing in Disguise’ Pasca Depresi Ekonomi

Culture

Mahaputra Vito Mahaputra Vito

Mahaputra Vito: Visual Artist yang Tak Pernah Membatasi Medium Eksplorasi

Culture

Lika-Liku Seni Mural Jalanan Lika-Liku Seni Mural Jalanan

Lika-Liku Seni Mural Jalanan

Culture

Apa yang Indonesia Bisa Pelajari dari French New Wave? Apa yang Indonesia Bisa Pelajari dari French New Wave?

Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia dari French New Wave?

Culture

Advertisement
Connect