Connect with us
7 Prisoners
Netflix

Film

7 Prisoners Review: Menyorot Perbudakan Modern di Negeri Samba

Film kritik sosial yang disajikan secara realis.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“7 Prisoners” merupakan sajian film kritik sosial dari Negeri Samba, Brazil. Film berdurasi satu setengah jam ini mencoba menyoroti isu perbudakan modern yang ada di sana. Cerita film ini dimulai dari Mateus (Christian Malheiros) yang sedang makan bersama dengan keluarganya.

Setelah makan, Mateus dibawa oleh seorang agen bersama tiga anak muda lainnya. Ia dan tiga anak muda itu dijanjikan bakal diberi pekerjaan layak. Sayangnya kenyataan yang mereka dapat justru berlawanan. Mereka justru bekerja sebagai pembongkar kabel dengan upah tak layak, serta jam kerja berlebih.

“7 Prisoners” sudah tersedia sebagai original Netflix pada 5 November kemarin. Sebelum dirilis di Netflix, film ini sudah pernah rilis di festival film Venice ke-78 pada September kemarin. Sejumlah pihak memberi ulasan positif saat film ini pertama kali tayang. Mulai dari penonton sampai kritikus film.

Netflix

Cerita yang Realis

Sebagai film kritik sosial, “7 Prisoners” tidak menyajikan cerita yang terlalu dramatik dan berurai air mata. Alexandre Moratto selaku sutradara justru membuat “7 Prisoners” serealis mungkin. Menonton film ini seolah-olah seperti menyimak film dokumenter.

Semua adegan kekerasan dan perbudakan di sini disajikan senyata mungkin tanpa kehilangan emosi di dalamnya. Kritik sosialnya disajikan seimplisit mungkin lewat beragam bentuk. Mulai dari dialog sampai tiap adegan yang ada di dalamnya. Selain menyoroti perbudakan modern, film ini juga sedikit menyinggung soal isu human trafficking yang ada di Brazil.

Flow plot ceritanya sendiri cenderung pelan namun tidak sampai bikin penonton jengah. Flow tersebut justru bisa bikin penonton menyimak tiap adegannya dengan baik. Setiap scene di “7 Prisoners” dilengkapi dengan sinematografi yang menggambarkan Sao Paulo dari berbagai sisi. Mulai dari sisi terkumuh hingga sisi terindah.

Untuk departemen musik, “7 Prisoners” menyajikan music scoring yang amat minim. Musiknya sendiri hanya akan muncul untuk beberapa adegan yang sentimentil dan menegangkan. Walaupun minim, music scoring-nya sudah pas sesuai kebutuhan adegan.

Christian Malheiros dan Rodrigo Santoro yang Solid

Dari sekian jajaran aktor yang bermain, Christian Malheiros dan Rodrigo Santoro boleh dibilang yang paling stand out. Keduanya mampu tampil solid dari awal hingga akhir. Selain tampil solid untuk masing-masing peran, Malheiros dan Santoro juga mampu menciptakan chemistry yang kuat.

Christian Malheiros mampu memerankan sosok Mateus yang kritis, punya jiwa pemimpin, dan mampu berkompromi dengan keadaan. Sekalipun keadaan yang ia hadapi cukup menyiksa. “7 Prisoners” merupakan film kedua Malheiros bersama Alexandre Moratto. Dalam suatu media, Moratti mengaku kalau peran Mateus memang diperuntukkan untuk Malheiros seorang.

Sementara itu, Rodrigo Santoro mampu memerankan sosok Luca yang merupakan sosok yang mempekerjakan Mateus dan teman-temannya. Walau terlihat kejam, Luca sebetulnya punya sedikit sisi manusiawi di dalamnya. Kredit sebesar-besarnya untuk Moratti atas penulisan karakter Luca.

Walau tak terlalu menonjol, deretan supporting role di “7 Prisoners” mampu memberi warna tersendiri. Khususnya mereka yang memerankan teman-teman Mateus. Semisal Ezequiel (Vitor Julian) dan Isaque (Lucas Oranmian).

“7 Prisoners” merupakan sajian kritik sosial dari Brazil. Film satu setengah jam ini mampu menyajikan kritik terhadap perbudakan modern secara realis. Menonton film ini bakal bikin penonton merasa seperti menyaksikan dokumenter dari Negeri Samba.

Interview With the Vampire Interview With the Vampire

Interview With the Vampire Review: Kisah Vampir Berjiwa Manusia

Film

Film Tentang Pencurian Data PribadiFilm Tentang Pencurian Data Pribadi Film Tentang Pencurian Data PribadiFilm Tentang Pencurian Data Pribadi

Film Tentang Pencurian Data Pribadi

Cultura Lists

Angele Review: Saat Pop Star Belgia Kembali Menemukan Jati Dirinya

Film

The Power of the Dog The Power of the Dog

The Power of the Dog Review: Toxic Masculinity dan Balas Dendam Tersembunyi

Film

Advertisement
Connect