Connect with us
Our Ladies

Cultura Lists

10 Rekomendasi Film Bertema Kenakalan Remaja

Film tentang kenakalan sepele hingga aksi kriminal yang dilakukan oleh anak remaja.

Banyak kisah dan peristiwa berkesan yang terjadi di masa remaja. Baik kisah cinta pertama yang manis, persahabatan yang manis, hingga kisah mencari jati diri. Topik-topik tersebut sudah diangkat dalam film-film drama coming of age populer. Namun, masa remaja juga tempatnya kesalahan, pemberontakan, dan usaha menghancurkan diri sendiri karena berbagai faktor yang mempengaruhi seorang remaja.

Kenakalan remaja juga bisa menjadi topik dalam film yang menarik untuk dieksplorasi. Mulai dari kenakalan-kenakalan wajar, hingga penyimpangan yang ekstrim dengan muatan berat.

Ada pelajaran yang bisa kita ambil untuk memahami faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak.  Atau sekadar bahan tontonan drama thriller berlatar di kehidupan remaja. Berikut sederet film bertema kenakalan remaja yang menarik untuk ditonton.

The Breakfast Club (1985)

“The Breakfast Club” merupakan film drama coming of age paling ikonik hingga saat ini. John Bender, Claire Standish, Allison Reynolds, Brian Johnson, dan Andrew Clark ada lima murid SMA yang harus menjalani masa hukuman di sekolah pada akhir pekan. Kelimanya harus menjalani masa hukuman di perpustakaan di bawah pengawasan salah satu staff pengajar, Richard Vernon yang strict.

Ketika melihat melihat film ini di masa muda, mungkin banyak dari kita yang melihat Vernon sebagai ‘villain’ dalam kisah ini. Kita lupa bahwa kelima remaja ini harus menjalani hukuman karena benar-benar melanggar berbagai peraturan sekolah. Namun film ini tidak hanya menghakimi, melainkan berusaha mengajak penonton memahami mengapa mereka bertindak demikian.

Virgin (2004)

“Virgin: Ketika Keperawanan Dipertanyakan” merupakan film tentang kenakalan remaja dari Indonesia, dibintangi oleh Angie Virgin, Laudya Cynthia Bella, dan Ardina Rasti. Menjaga keperawanan merupakan salah satu bagian dari budaya di negara ketimuran seperti Indonesia. Film ini adalah kisah tentang tiga remaja SMA, Stella, Katy, dan Biyan. Ini adalah kisah bagaimana ketiga terjerumus dalam pergaulan bebas dan gemerlap kehidupan malam di Jakarta.

Mulai dari faktor yang mempengaruhi, latar belakang setiap karakter, masa senang-senang, hingga konsekuensi yang harus dihadapi ketika memutuskan untuk terjun dalam gaya hidup remaja yang bebas, “Virgin” hendak mengeksplorasi topik-topik tersebut.

Our Ladies (2019)

Cukup serupa dengan “Virgin”, namun berlatar di Skotlandia pada tahun 1990an, sekelompok siswi SMA Katolik mendapat kesempatan untuk mengikuti kompetisi paduan suara di Edinburgh. Orla, Finnoula, Manda, Kylah, dan Chell lebih semangat keliling kota daripada memenangkan kompetisi tersebut.

Mereka miliki daftar ‘kenakalan’ untuk dilakukan selagi berada di kota. Mulai dari mengunjungi bar, minum-minuman keras, belanja, berpesta, hingga berkencan dengan laki-laki lokal.

How to Build A Girl (2019)

“How to Build A Girl” merupakan film drama coming of age dengan muatan ‘self-destruction pada karakter Johanna Morrigan. Johanna pandai menulis dan melamar kerja sebagai kritikus film di majalah lokal di Wolverhampton pada tahun 1990an. Awalnya Johanna adalah remaja perempuan yang manis, namun setelah menemukan sisi lain dalam dirinya, Johanna menikmati persona barunya sebagai kritikus dengan komentar pedas pada musisi lokal.

“How to Build A Girl” adalah segalanya tentang untuk tidak menciptakan seorang remaja perempuan yang ideal. Penuh dengan kesalahan dalam mengambil keputusan, sifat impulsif, dan kesombongan di usia muda. Namun film ini juga mengandung ‘redemption arc’ yang cukup inspiratif dari protagonisnya.

The Basketball Diaries (1995)

Leonardo DiCaprio sudah tunjukan kualitas akting terbaik bahkan sejak usia muda, salah satunya dalam film remaja “The Basketball Diaries”. Film ini merupakan film yang diangkat dari autobiografi Jim Carroll, menceritakan masa mudanya yang kelam. DiCaprio berusia 21 tahun ketika memerankan Jim Carroll remaja dalam film ini. Jim adalah atlet basket sekolah dengan bakat dan masa depan menjanjikan.

Namun angan tersebut pupus ketika ia terjerumus dalam penggunaan obat terlarang yang secara perlahan menghancurkan masa mudanya sendiri. Film ini memiliki banyak konten yang cukup tidak nyaman untuk ditonton, namun akting DiCaprio muda dalam film sangat bagus sampai mematahkan hati penonton.

The Bling Ring (2013)

“The Bling Ring” merupakan film bertema kenakalan remaja yang terinspirasi dari kejadian kriminal nyata di California. Sekelompok remaja yang memanfaat internet untuk melacak kediaman mewah artis kaya. Kemudian membobol properti artis tersebut dan merampok pakaian, sepatu, berbagai aksesoris branded, hingga perhiasan. Sekelompok remaja itu menyebut diri mereka sebagai ‘Bling Ring’.

Seperti film tentang kenakalan remaja pada umumnya, “The Bling Ring” memang meromantisi perbuatan menyimpang yang dilakukan sekelompok remaja tersebut. Melakukan aksi kriminal adalah hal yang keren, kemudian memanjakan diri dengan hasil rampokan mereka. Namun, pada akhirnya juga ada babak kehancuran dan konsekuensi yang harus diterima oleh remaja-remaja ini.

Film ini sempat booming pada masanya karena dibintangi oleh Emma Watson. Film ini menjadi transisinya sebagai aktris anak-anak yang populer melalui “Harry Potter”, menuju citra yang lebih dewasa.

Luckiest Girl Alive (2022)

“Luckiest Girl Alive” bisa dikategorikan dalam film bertema kenakalan remaja untuk beberapa alasan. Film ini mempresentasikan dua timeline dari protagonisnya, Ani (Mila Kunis), ketika ia sudah dewasa dan ketika ia masih duduk dibangku sekolah (Chiara Aurelia). Ani mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh teman-teman satu sekolahnya sendiri.

Melalui presentasi dua timeline, kita bisa melihat bagaimana tragedi di masa remaja tetap menghantui dan mempengaruhi mental korbannya hingga dewasa. Selain pelecehan yang dilakukan oleh anak remaja, ada topik penembakan di sekolah juga dalam film ini. Film ini mengandung konten yang bisa memicu trauma penonton tertentu, peringatan buat yang ingin menonton.

We Need to Talk About Kevin (2011)

Eva bersama suaminya, Franklin, mengakhiri gaya hidup hipster travelling mereka untuk memiliki anak dan membangun keluarga. Namun, semenjak lahir, Eva merasa tidak memiliki ikatan dan memahami anaknya, Kevin. Seiring momen tumbuh dewasa, Kevin memperlihatkan sikap-sikap janggal yang hanya disadari sepenuhnya oleh Eva, hingga akhirnya semua terlambat dan ia sendiri juga harus menerima konsekuensi dari perbuatan ekstrim Kevin.

“We Need to Talk About Kevin” dibintangi oleh Tilda Swinton dan Ezra Miller. Kalau film satu ini memasukan unsur parenting juga yang mempengaruhi perkembangan Kevin yang menjadi subyek dalam skenario ini.

Heathers (1988)

“Heathers” bisa diibaratkan sebagai “Clueless”, namun dengan korban pembunuhan. Film remaja klasik ini dibintangi oleh Winona Ryder sebagai Veronica. Ia adalah bagian dari kelompok murid-murid keren dan populer di SMA Westerburg yang disebut sebagai ‘Heather’. Setelah jatuh cinta dengan murid baru misterius, J.D., mereka menjalin kasih sambil membantai anak-anak keren di sekolah mereka satu per satu.

“Heathers” level kriminalnya sudah setara dengan film bergenre thriller, bisa juga masuk dalam spektrum teen scream dengan skenario pembunuhan berantainya. Film seperti ini juga salah satu yang menggunakan pendekatan romantisme pada tindakan menyimpan pada remaja.

The Craft (1996)

Satu lagi yang klasik dan ikonik adalah “The Craft”. Biar tidak bosan, film satu ini memiliki unsur supranatural dan skenario bertema sekte. Nancy, Sarah, Bonnie, dan Rochelle adalah remaja SMA yang memiliki obsesi masing-masing. Mulai dari kekuatan, cinta, kecantikan, hingga ambisi untuk menjadi yang terbaik. Merasa dikhianati dan dipersulit jalannya, keempatnya pun memutuskan untuk mencoba witchcraft agar mendapatkan kekuatan untuk mengontrol kehidupan sesuai impian masing-masing.

“The Craft” bisa dimaknai sebagai penggunaan kekuatan yang tidak bertanggung jawab oleh anak remaja. Seperti inilah bahayanya ketika sekelompok remaja impulsif mampu mendapat kekuatan yang bisa mereka eksploitasi seenaknya.

The Iron Claw Review The Iron Claw Review

The Iron Claw Review: Biopik Tragedi Pegulat Von Erich Bersaudara

Film

Furiosa A Mad Max Saga Review Furiosa A Mad Max Saga Review

Furiosa: A Mad Max Saga Review – Masa Lalu dan Dendam Furiosa

Film

Monkey Man Review Monkey Man Review

Monkey Man Review: Bukan John Wick Versi India

Film

The First Omen The First Omen

The First Omen Review: Prekuel Horor Religi Lebih Sinematik

Film

Connect